Tampilkan postingan dengan label Cerita Seks Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Seks Umum. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Januari 2014

Bandung one night stand - 1

Malam itu aku berangkat ke Bandung dengan kereta eksekutif. Rasanya malas harus pergi malam-malam, tapi karena tugas kantor besok harus bertemu klien di sana, maka akupun berangkat juga. Suasana gerbong malam itu tidak terlalu ramai, memang bukan waktu liburan, jadi tak banyak penumpang. Kusetel tempat dudukku agar aku bisa tiduran. Tetapi baru saja aku mau memejamkan mata, pramugrari mengantarkan makanan kecil dan minuman hangat.
“Mau teh atau kopi, Mas?” tanya pramugari itu.

Aku mengusap wajahku sebelum menjawabnya,”Teh saja.” Sesaat kudongakkan wajahku, seperti kukenali wajah pramugari yang menawarkan kopi itu.

“Maaf, Neng. Apa kita pernah bertemu ya?” tanyaku sebelum ia beranjak ke kursi berikutnya. Ia menatapku lekat-lekat lalu tersenyum riang.
“Ya ampun, Bagas. Apa kabar?”
“Santi, kan?”

“Iya. Sebentar ya, aku selesaikan dulu tugasku.” Tanpa menunggu jawabanku, Santi bergegas menyelesaikan tugasnya. Beberapa menit kemudian ia lewat sambil meletakkan secarik kertas di meja makanku. “Ke gerbong mesin saja, tugasku sudah selesai. Letaknya dua gerbong di depan gerbong ini.” Pesan Santi dalam kertas itu.

Aku menggeliat sebentar sebelum bangkit dan beranjak dari tempat dudukku. Tak ada yang memperhatikanku. Di samping hanya lampu tidur yang dinyalakan, ternyata beberapa penumpang yang ada di gerbongku sudah terlelap semua. Aku bergegas menuju ke gerbong mesin dengan berhati-hati agar tidak menimbulkan curiga orang lain.

Santi sudah berada di sana, duduk di atas kotak kayu. Gadis itu langsung menghambur dalam pelukanku begitu aku menghampirinya. Aku pun membalasnya dengan pelukan yang erat. Kurasakan buah dadanya yang besar mengganjal di dadaku. Sesaat darah laki-lakiku berdesir.

“Sudah lama sekali sejak kita lulus SMA ya. Senang rasanya aku bisa bertemu kamu lagi,” kata Santi di telingaku.
“Aku juga. Kangen deh rasanya sama kamu?”
“Ah, gombal. Kamu memang nggak berubah dari dulu, masih pandai merayu.”

Suara bising mesin membuat kami harus berbicara dekat-dekat telinga. Kesempatan itu kugunakan untuk menggodanya. Aku pura-pura akan membisikinya, tapi bukan itu yang kulakukan, aku malah mengecup pipi gadis itu.

“Ahhh, Bagas nakal,” gerutunya dengan suara manja.

Bukannya berhenti, aku malah memindahkan bibirku mengecup bibirnya. Kali ini Santi tak bisa berbicara lagi, karena aku telah mengulum bibirnya beberapa saat lamanya. Ia sampai gelagapan dibuatnya. Kulepaskan ciumanku sesaat saja, selanjutnya kembali kupagut bibirnya yang tipis merah merekah itu. Santi membalasku. Gadis itu memelukku erat-erat, terasa sepasang payudaranya mulai mengencang. Aku tahu, dia sedang bergairah.

Kupindahkan mulutku menjelajahi lehernya yang jenjang. Hanya beberapa saat saja di situ. Aku turun lagi sambil membuka kancing kemeja dinasnya. Kujilati pangkal buah dadanya yang masih tertutup BH berwarna putih. Kutarik Bhnya ke bawah sehingga buah dadanya terlihat semakin mengencang. Kujilati putingnya yang mengacung. Santi menggelinjang berkali-kali. Kuremas-remas sepasang daging kenyal itu dengan lembut. Santi mendesah-desah perlahan.

“Ohhh…aahhhh….terusin, sayang…ohhhh….enak sekali….”

Berganti-ganti mulutku mengulumi puting kedua payudaranya. Sesekali kuhisap dan kugigit-gigit lalu kuusap-usap dengan lidahku. Santi merintih lirih. Aku tahu birahi gadis itu semakin meninggi, terlihat dari buah dadanya yang semakin mengeras dan putingnya yang semakin mengacung.

Kuhentikan permainanku di sana. Sepasang buah dada Santi tampak memar dan memerah karena permainanku tadi. Kubopong tubuh dan kududukkan di atas kotak kayu yang tadi ia duduki. Kutarik sebelah kakinya agar berada di atas kotak sedangkan yang satu lagi tetap menjuntai ke bawah. Kusingkapkan rok spannya ke arah perut. Kini selangkangan gadis itu terbuka lebar. Pangkal pahanya masih tertutup celana dalam berwarna merah muda. Aku jongkok di hadapan selangkangannya. Kuremas-remas kemaluannya yang masih tertutup celana dalam dengan ujung-ujung jemariku.

“Oh, ah..” Santi kembali menggelinjang.

Aku semakin tak tahan. Kuperosotkan celana dalam gadis itu, lalu kumasukkan celana dalamnya ke saku celanaku. Kini bisa kunikmati pemandangan yang indah terpampang di hadapanku. Tanganku pun segera beraksi pada pangkal paha gadis itu. Kemaluan Santi tampak bersih dan mulus tanpa sehelai rambut pun yang menghiasi sekitar bibir kemaluannya. Rupanya ia begitu memperhatikan bagian yang sangat pribadi itu. Kusibakkan bibir kemaluannya dengan jemari tangan kiriku. Lalu telunjuk tangan kananku mulai menggelitik klitorisnya.

“Ohhh….Ohhh….Ahhhh…” Santi mendesah lirih. Tubuh gadis itu meliuk-liuk seperti cacing kepanasan. Ia memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya. Rupanya Santi sudah tak sanggup lagi menahan gejolak birahinya. Aku semakin bersemangat untuk mempermainkan kemaluannya.

Kugelitik bibir dalam kemaluannya yang lembut dan terasa basah. Kemudian dengan lembut telunjukku menerobos masuk lubang kemaluannya yang basah dan licin oleh lendir birahi gadis itu.

“Ahhhh….Uhhhh….Ssshhhh…” Kembali Santi mendesah-desah kenikmatan ketika telunjukku menekan-nekan G-spot yang ada di dalam kemaluannya. Kurasakan otot-otot seputar lubang kemaluannya berkontraksi menjepit jemariku.

Aku ingin membuat Santi semakin melayang. Maka mulutku pun tidak tinggal diam. Kukecup bibir kemaluannya dengan lembut diiringi lidahku yang kemudian menari-nari sekitar klitorisnya. Kurasakan jari telunjukku yang masih di dalam lubangnya semakin basah oleh lendirnya yang semakin deras mengalir. Lidahku terus bermain-main di sekitar klitoris dan bibir kecilnya. Sesekali kutekan klitorisnya dengan lidahku dan kurasakan bagian itu semakin menonjol dan mengeras. Yang kubaca di buku, bila wanita sudah begitu, berarti birahinya sudah memuncak.

“Ohhhh….Bagassss…Aku sudah nggak tahan lagi…” bisik Santi dengan suara serak.

Aku belum mau berhenti. Bisikan Santi justru membuatku semakin bersemangat untuk merangsang birahinya. Kini kutarik jari telunjukku dari dalam lubang kemaluannya. Kuhunjamkan mulutku pada kemaluannya. Kuhisap, kugelitik dan kujilati semua yang ada di sana. Santi semakin histeris.

“Ouww!!” pekik Santi tertahan. Gadis itu meremas-remas rambut kepalaku sambil kedua pahanya menjepit kepalaku. Mulutku semakin terbenam dalam kemaluannya dan membuatku sulit bernafas. Aku pun semakin menggila. Kuhisap klitorisnya dengan keras.

“Ouwww!!” Santi menjerit lagi. “Ohhh..Bagas, ayolah…aku sudah nggak kuat lagi..”

Santi melepaskan jepitan pahanya. Aku tahu isyarat itu. Kuangkat kepalaku dari pangkal pahanya. Kusapu mulutku yang basah dengan punggung tanganku. Kupandangi sebentar wajah Santi yang pucat karena menahan birahinya yang semakin memuncak. Aku jadi kasihan melihatnya. Kubuka ikat pinggangku dan kuperosotkan celanaku sebatas lutut berikut celana dalamku. Penisku sudah tegang dan mengacung pertanda siap untuk bertempur.

Santi segera menggenggam kemaluanku, membelai-belainya sebentar, kemudian menariknya dan mengarahkannya pada lubang kemaluannya sendiri. Aku merapatkan ujung kemaluanku pada permukaan lubang kemaluan gadis itu. Setelah tepat, kutekan perlahan sehingga batang penisku menerobos lubang vaginanya perlahan-lahan. Kutekan lebih dalam lagi sampai seluruh kemaluanku amblas dalam lubang kemaluannya.

“Ohhhhhhh…..” Santi mendesah panjang ketika batang kemaluanku menerobos masuk lubang vaginanya.

Santi merebahkan tubuhnya 45 derajat bertumpu pada kedua sikunya. Kutarik kedua kaki gadis itu ke atas pundakku sebelum aku mulai menggerakkan kemaluanku. Dengan posisi itu kemaluanku terasa semakin dalam menembus vaginanya. Itu juga membuatku merasa nikmat. Dengan teratur aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur. Kemaluanku pun keluar masuk lubang vaginanya dengan teratur dan berirama.

“Ohhh…yaaahhh….ayo sayang bergerak makin cepat, aku sudah nggak tahan lagi,” bisik santi diiringi desahan dan desisan nikmat.

Aku pun semakin bersemangat mengocok. Saking bersemangatnya suara kemaluan kami yang beradu sampai mengeluarkan suara berdecak-decak. Tetapi semua teredam oleh bunyi berisik suara mesin kereta. Aku terus memacu menuju ke puncak dan agaknya Santi akan sampai lebih dulu. Kurasakan tubuh Santi semakin menegang. Otot-otot di seputar lubang kemaluannya juga semakin terasa kencang menjepit kemaluanku. Lendir yang ia keluarkan juga semakin deras.

“Ayo Bagasss….aku sudah mau keluar nihh…” kata Santi dengan nafas tak beraturan.

Aku justru menghentikan gerakanku. Kutarik tubuh Santi agar berubah posisi. Kusuruh ia menungging dengan paha terbuka. Kuarahkan penisku pada lubang kemaluannya yang terbuka lebar. Sesaat saja langsung amblas ditelan lubang vaginanya. Sesaat kemudian aku sudah kembali bergerak maju mundur. Kali ini gerakanku semakin tak beraturan.

“Yahhhh….ayooo…terus sayang…aku mau keluar nihh…” kata Santi lagi.

“Sabar, sayang. Aku juga mau keluar. Kita keluarin sama-sama,” sahutku.

Kucengkeram pinggang gadis itu dan kugerakkan kemaluanku semakin cepat. Kurasakan dinding-dinding vagina Santi semakin mengeras dan menjepit kemaluanku. Kurasakan tubuhku juga semakin menegang. Ada sesuatu yang seolah bergerak dari sekujur tubuhku menuju satu titik pada kemaluanku.

Aku menekan dengan hentakan keras. Kupeluk tubuh Santi dari belakang dengan erat, sehingga kemaluan kami berpaut erat sekali. Tubuhku mengejan dan muncratlah berkali-kali air maniku menyembur dalam vagina gadis itu. Kurasakan Santi pun mengejan dan membanjirlah lendirnya menyambut air spermaku.

Sesaat kemudian tubuhku terasa lemas. Kupeluk tubuh Santi dari belakang tanpa melepaskan kemaluanku dari dalam lubang kemaluannya. Kurasakan juga tubuh Santi yang tadi tegang, sekarang sudah kembali normal.

“Ouw!” pekik Santi manakala batang kemaluanku kucabut dari dalam lubang kemaluannya.

Aku duduk di atas kotak itu dan kutarik tubuh Santi ke atas pangkuanku. Kutatap wajahnya yang memerah dengan titik-titik keringat menghiasi dahinya. Kukecup dengan mesra bibirnya yang basah.

“Thanks ya, Bagas,” bisik gadis itu. Aku hanya tersenyum membalasnya.

Kupeluk tubuh gadis itu dengan erat lalu kukecup puting susunya. Ia menggelinjang.

“Ahh, kamu memang nakal. Mau lagi?” tawarnya. Aku hanya mengangguk.

“Sudah satu jam. Nanti aku dicari teman-temanku,” sahut Santi sambil merapikan pakaiannya. Aku seolah menunjukkan wajah kecewa.

“Jangan marah dong. Nanti kan kita bisa ketemu lagi. Hari ini aku off, besok pagi aku baru kembali ke Jakarta. Kamu nginap dimana?” tanya Santi sambil mengecup pipiku.

Aku pun memberikan alamat Hotel tempat aku akan menginap yang rupanya tak jauh dari mess pegawai kereta api tempat ia menginap. Setelah terlihat rapi, Santi pun meninggalkanku. Aku baru sadar setelah ia tak kelihatan lagi, kalau celana dalamnya masih kukantongi. Aku pun segera merapikan pakaianku lalu kembali ke tempat dudukku. Biarlah celana dalam itu kusimpan sebagai kenangan kalau nanti malam ia tak jadi datang.

Bersambung . . .  .




Bandung one night stand - 2

Aku gembira sekali karena tender yang kuurus berhasil. Setelah makan malam dengan klienku, aku kembali ke kamar hotelku. Sebenarnya aku ingin menikmati kota Bandung di malam hari, tapi kuurungkan niatku karena masih ada dua hari lagi aku di sana. Setelah menggosok gigi, aku mengenakan kaos oblong dan celana pendek lalu merebahkan diri di atas sofa sambil menonton acara di televisi. Ketika sedang mengganti-ganti channel TV, ponselku berdering. Rupanya Santi yang menelpon. Ia sudah berada di lobi hotel.

“Naik saja langsung ke kamar 225,” kataku.

“Oke,” sahut Santi.

Tak lama kemudian Santi masuk dan mengunci pintu kamarku. Gadis itu mengenakan kaos putih dan celana jeans warna hitam, tampak serasi dengan tubuhnya yang atletis. Ia membawa soft drink dan makanan ringan kesukaanku, kacang mede.

“Kirain nggak jadi datang,” kataku.

“Harus dong, kan celana dalamku masih ada sama kamu. Masak aku pulang ke Jakarta nggak pakai celana dalam,” seloroh gadis itu.

“Memangnya cuma bawa satu?”

“He-eh,” jawabnya singkat sambil tersenyum menggoda. Aku tahu ia hanya bergurau.

Sesaat kemudian kami sudah tenggelam dengan candaan dan gurauan ringan sambil makan kacang mede. Sesekali kami saling menyuapi, berbagi minum lalu main gelitik-gelitikan, persis seperti anak-anak ABG saja. Tapi itu membuatku merasa fresh lagi.

Pukul sembilan malam makanan kecil dan minuman kami sudah habis. Santi pamit ke kamar mandi. Aku mematikan lampu ceiling dan menyalakan lampu baca di meja sebelah tempat tidur. Aku masih menonton televisi. Tiba-tiba Santi duduk di pangkuanku dengan posisi mengangkangiku.

“Masih mau lanjutin yang tadi pagi?” bisiknya di telingaku. Nafasnya terasa panas menyulut gairahku. Belum sempat kujawab, Santi sudah melumat bibirku dengan bernafsu. Aku pun membalasnya dengan penuh nafsu pula. Bibir kami saling mengulum dan lidah kami saling mengait. Sementara kedua tangan Santi memeluk kepalaku, tanganku sudah menerobos masuk ke balik t-shirtnya.

Aku langsung mencari kancing BH di punggungnya. Sekali tarik saja kancing BH gadis itu sudah terlepas. Tanganku segera berpindah ke depan dan menemukan sepasang bukit kenyal dengan puncaknya yang mungil. Kusingkapkan ke atas t-shirt dan BH-nya, tampaklah sepasang buah dada yang putih montok namun tidak terlalu besar untuk ukuran gadis Indonesia.

Kuremas-remas dengan lembut onggokan daging mengkal sebesar buah apel Fuji itu dan kupilin-pilin putingnya yang mungil dan kenyal itu. Santi menggelinjang dan mendesah lirih. Secara bergantian kusapukan lidahku di atas buah dada gadis itu, kugelitik putingnya sambil sesekali kuhisap dengan keras. Desahan Santi makin panjang.

“Sshhhhh….aaaahhhh…” seperti desisan kobra Santi mendesis dan mendesah meresapi permainan lidahku di atas payudaranya. Tangannya meremasi rambut kepalaku sambil sesekali menekan kepalaku ke dadanya sehingga membuat wajahku tenggelam di atas buah dadanya yang empuk. Semakin lama kurasakan payudara gadis itu semakin mengeras dan putingnya semakin menonjol. Itu adalah tanda birahi gadis itu mulai naik.

Kutanggalkan t-shirt dan BH Santi, sementara ia juga menarik kaos oblong yang kukenakan. Bagian tubuh atas kami sudah telanjang sekarang. Kini giliran Santi yang agresif. Gadis itu menciumi leherku, menggelitik bagian bawah telingaku, lalu turun menjilati putingku yang kecil dan meremasi dadaku yang lumayan bidang. Bukan membuatku terangsang, malah membuatku geli. Aku tidak tinggal diam. Kuangkat tubuh Santi dan kubarangkan di sofa dengan punggung berada di sandaran sofa.

Kembali mulutku bermain-main di seputar dada gadis itu. Kuremas-remas buah dadanya yang semain lama semakin mengeras. Kupilin-pilin, kujilati dan kuhisap putingnya yang juga semakin mengeras sambil sesekali kugigit-gigit lembut. Santi mendesah-desah dibuatnya.

“Ouhhh…ouhh…aahhh..aahhh…shhhhh..” Tubuh gadis itu meliuk-liuk seperti cacing kepanasan.

Setelah puas bermain di sana, mulutku turun ke bawah dan menjilati perutnya, kemudian turun menggelitik pusarnya yang bersih. Kembali tubuh Santi meliuk-liuk, entah geli atau semakin terangsang. Kubuka kancing jeans gadis itu. Kutarik resletingnya lalu kutanggalkan segera. Tinggal celana dalam yang kini membungkus tubuh sexy itu. Itu pun tidak bertahan lama karena aku segera menariknya. Dan tampaklah tubuh Santi yang sexy itu polos tanpa sehelai kain menutupinya.

Kuciumi sepasang pahanya yang putih mulus, bersih tanpa ada cacat sedikit pun. Semakin lama mulutku semakin ke atas dan berhenti pada pangkal pahanya. Kutemukan seonggok daging terbelah tanpa bulu yang biasa menghiasi kemaluan orang dewasa.

“Rajin cukur ya?” tanyaku setengah berbisik yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Santi disertai senyuman manis dan pasrah.

Kesibakkan sepasang bibir luar atau yang biasa disebut labia mayora yang berwarna kehitaman. Di dalamnya kutemukan sepasang bibir dalam berwarna merah muda yang tipis dan halus dan sedikit basah, sehingga tampak mengkilap di bawah bias sinar lampu. Bagian itu dinamakan labia minora. Di ujung atas ada bagian yang kecil dan menonjol, itulah klitoris atau kelentitnya. Dari buku yang kubaca, bagian itu adalah bagian yang paling gampang terangsang. Maka akupun mendekatkan mulutku ke sana. Kusapukan lidahku pada bibir kecilnya lalu berhenti pada klitorisnya. Dengan ujung lidahku kugelitik bagian itu sambil sesekali kutekan-tekan, terasa semakin lama semakin menonjol. Benar saja, Santi semakin kepayahan dibuatnya.

“Ohhhh…ohhh…ahhhh…ahhhh…” desah Santi kenikmatan. “Terusin sayang…ohhh… enak sekali sayang…”

Pada bagian bawah ada lubang kecil tempat keluar air seni, itu adalah lubang kencing. Lalu di bawahnya ada lubang yang basah dan licin, itu adalah lubang senggama atau biasa disebut vagina. Dari lubang itu melelh air lendir birahi gadis itu. Lidahku berpindah ke sana menjilat cairan bening yang rasanya asin itu, lalu ujung lidahku menerobos masuk dan menggelitik rongga vaginanya.

“Ohhh…ohhh….aahhhhhhhh…” kembali Santi mendesah-desah kenikmatan.

Tangannya dengan kuat mencengkeram kepalaku dan membuat rambutku berantakan. Sesekali pahanya menjepit kepalaku sehingga mulutku semakin tenggelam dalam kemaluannya.

“Ohhh, Bagasss Sayanggg…aku sudah nggak tahan nih…” bisik Santi dengan nafas tersengal-sengal. Nampaknya ia sudah tak sanggup menahan gejolak birahinya yang semakin tinggi.

Aku melepaskan mulutku dari kemaluannya. Kuseka mulutku yang penuh lendir dengan punggung tanganku. Kemudian aku merebahkan diri di atas sofa sambil kutarik tubuh Santi untuk bangun. Gadis itu segera membuka celana pendekku berikut celana dalamku. Kini kami sudah sama-sama telanjang bulat. Pakaian kami berserakan di lantai. Kami tidak peduli lagi.

Santi segera menggenggam batang kemaluanku yang tegang mengacung dan berdenyut-denyut. Dengan lidahnya disapunya ujung penisku yang botak dan licin itu, aku menggelinjang dibuatnya. Tangan gadis itu dengan cekatan mengocok-ngocok batang kemaluanku. Sekali-sekali Santi mengulum penisku dalam mulutnya. Rasa hangat dan lembut membuatku semakin terangsang.

“Sudah sayang, yuk kita lanjutin,” bisikku menyudahi permainan itu.

Aku duduk tegak dan punggungku merapat pada sandaran sofa dengan kaki menjuntai ke lantai. Santi berdiri mengangkang di atas kedua pahaku yang merapat. Kutarik pinggangnya perlahan. Santi menurunkan pantatnya perlahan. Kupegangi batang kemaluanku agar mengarah ke lubang vagina gadis itu. Setelah tepat kutarik pinggang Santi dan ia pun menurunkan pantatnya makin rapat ke atas pangkuanku. Maka amblaslah kemaluanku menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya.

Santi mengangkat ke dua kakinya ke atas sofa dan merebahkan tubuhnya ke arahku. Dengan berpegangan pada sandaran kursi dan aku menahan pantatnya dengan kedua tanganku, Santi mulai bergerak naik turun. Kemaluanku dengan sendirinya keluar masuk dengan teratur. Tapi posisi itu tidak berlangsung lama, karena kami jadi tidak leluasa beraksi.

Santi merubah posisi masih tetap di atas, tapi kali ini kami saling berhadapan. Santi mencondongkan tubuhnya ke arahku dan bertumpu pada sandaran sofa. Kembali ia menggerakkan pantatnya naik turun. Sementara aku memegangi pinggangnya sambil sesekali menekan dan menahannya beberapa detik sehingga penisku menerobos semakin dalam.

“Ohhhhh…..” setiap kali aku melakukan itu, Santi mendesah panjang. Ia pasti merasakan batang kemaluanku menembus sampai ke permukaan rahimnya. Dan aku yakin ia merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Sepuluh menit sudah berlalu, tapi kami sama-sama belum mau orgasmu. Kuangkat tubuh Santi tanpa melepaskan kemalun kami. Santi memelukku erat sekali saat aku menggendongnya, sehingga kemaluan kami seolah lengket karena berpaut begitu erat.

“Ouw..ouw…ahhhhh” jerit-jerit lirih Santi tertahan ketika aku menggendong dan membawanya ke tempat tidur. Kemaluanku melesak-lesak dalam vagina Santi ketika aku berjalan.

Sesampainya di tempat tidur kurebahkan tubuh Santi dengan pantat tepat berada di tepi ranjang. Dengan posisi Santi tidur dan aku berdiri, aku lebih leluasa beraksi. Santi menarik bantal untuk mengganjal kepalanya. Kubka kedua paha gadis itu sehingga kemaluanku lebih leluasa lagi bergerak keluar masuk. Semakin lama lubang vagina Santi semakin licin oleh lendir birahinya.

“Crett..cruttt…” suara kemaluan kami yang beradu seolah irama yang merdu mengiringi kami menuju ke puncak asmara. Aku terus bergerak dengan teratur. Semakin lama gerakan ku semakin cepat. Tubuh kami sudah bermandikan keringat meskipun kamar itu ber-AC.

Setengah jam telah berlalu, ketika Santi tiba-tiba memekik. “Ohhhh..aku mau keluar, sayang…”

Segera kudorong tubuh Santi ke tengah ranjang, kami melakukan gaya missionari. Kedua kaki Santi terangkat lalu mengait pinggangku. Aku jadi tidak bisa bergerak. Kini giliran ia yang bergerak berputar-putar. Kemaluanku melesak-lesak dibuatnya. Tak lama akupun mulai merasakan tanda-tanda akan orgasme.

“Ayo sayang, keluarin saja. Aku juga mau keluar,” kataku.

Santi semakin cepat bergoyang. Dan tak lama kemudian ia memelukku erat-erat. Akupun membalasnya. Tubuh kami bagai menyatu. Kemaluan kami seperti lengket. Sesaat tubuh kami sama-sama mengejang. Sedetik kemudian penisku menembakkan air mani berkali-kali yang segera disambut dengan lendir birahi gadis itu. Rongga vagina Santi terasa banjir oleh cairan bahagia kami yang menyatu.

Kami masih berpelukan erat selama beberapa menit, menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mencapai puncaknya. Sembari mengatur nafas kami yang tidak beraturan. Aku menggulingkan badanku dengan posisi Santi di atas. Kemaluan kami masih menyatu. Tidak kami lepaskan sampai kami tertidur.

Bersambung . . . . .




Bandung one night stand - 3

Pukul empat pagi kami terbangun karena kedinginan. Kami kembali sama-sama terangsang. Lalu kami bersenggama lagi sampai kami berkeringat dan kelelahan. Pukul setengah enam pagi Santi mengajakku mandi karena jam sembilan ia harus kembali ke Jakarta.

Setelah mengisi penuh bath tub dengan air hangat dan sabun rendam, aku kembali ke kamar dan membopong tubuh Santi ke sana. Ku turunkan dengan perlahan tubuh gadis itu ke dalam bak mandi lalu aku pun menyusul masuk juga. Kuambil spon lalu kami bergantian saling membersihkan tubuh kami dengan sabun mandi. Setelah bersih, aku membuka tutup lubang bath tub itu sehingga air sabun itu terkuras habis, lalu aku mengganti dengan air yang baru. Lalu kami saling berbilas. Shower kunyalakan sehingga kami seolah mandi di bawah air hujan.

Kami saling berhadapan. Kuambil shower dan kubersihkan sisa-sisa busa sabun di tubuh gadis itu. Lalu gantian Santi menyirami tubuhku. Kami melakukannya dengan bergantian.

Ketika aku membersihkan vaginanya, aku kembali terangsang. Perlahan penisku pun ereksi. Santi yang melihat hal itu langsung membelai-belai kemaluanku.

“Kayaknya dia mau lagi tuh,” godanya.

“Ini juga, kayaknya memanggil-manggil agar ini masuk ke sana,” balasku sambil menunjuk penisku dan vaginanya.

“Kita lakukan spontaneous sex yuk,” ajaknya.

“Oke, siapa takut.”

Spontaneous sex itu seks yang dilakukan dengan spontan dan cepat, tanpa pemanasan. Biasanya karena buru-buru, tapi nggak tahan lagi, padahal harus bernagkat ke kantor. Atau karena di lift, jadi horni nggak bisa tahan lagi, ya sudah main saja. Atau… seperti kami ini, sedang mandi, tiba-tiba terangsang lalu…ayo saja…

Kami sama-sama keluar dari air. Kami berpelukan sebentar, berciuman dengan panas lalu sesaat kemudian Santi segera mengambil posisi. Ia membungkukkan tubuhnya dengan berpegangan pada tepi bak mandi dengan paha terbuka. Aku berada tepat di belakangnya. Kuraba-raba sebentar kemaluan Santi.

“Ternyata sudah basah ya,” kataku sambil ketawa.

“Iya, kayaknya anuku nggak bisa tahan lihat anumu berdiri,” balasnya sambil tertawa.

Kugenggam batang kemaluanku dan kuarahkan pada lubang kemaluan Santi. Ia menundukkan tubuhnya lebih rendah lagi sampai menungging, sehingga lubang vaginanya tampak jelas terbuka dan akupun lebih mudah mengarahkan penisku ke sana. Kutekan perlahan dan kudorong dengan lembut, maka amblaslah kemaluanku ditelan kemaluan Santi.

Kupegang pinggang Santi dan aku mulai bergerak maju mundur dengan teratur dan berirama. Kadangkala Santi pun menggerakkan pantatnya maju mundur, sehingga tubuh kami saling beradu.

“Ohhh..yaaahhhhh…ayo…sayang….lebih cepat lagi…” bisik Santi sambil mendesah.

“Oh..yaaaahhhh…” balasku dengan nafas memburu.

Gerakanku semakin lama semakin cepat dan tidak beraturan. Aku sengaja agar permainan itu segera selesai. Dan itu memang inti permainan spontaneous sex. Santi melakukan hal yang sama. Dengan jari-jarinya sendiri ia menggelitik klitorisnya. Dan tak sampai sepuluh menit, Santi sudah menjerit.

“Ohh!! Aku mau keluar sayang….!!!”

“Yeeaahhhh…keluarin saja sayang, aku juga mau keluarrrr….”

Aku terus memburu. Gerakanku makin cepat. Kami saling memacu untuk menuju puncak kenikmatan kami. Tubuh Santi sampai terguncang-guncang. Buah dada gadis itu sampai terlempar ke kanan ke kiri. Tak lama kemudian aku menekan penisku dalam-dalam. Kupeluk tubuh Santi dan kucengkeram kedua buah dadanya dari belakang. Santi juga mendorong pantatnya ke belakang. Terasa penisku menancap begitu dalam di lubang vaginanya.

“Ohh yaaa!!!!” jerit Santi ketika ia mencapai orgasme. Aku pun menyusul beberapa detik kemudian dengan ditandai mucratnya air maniku berkali-kali.

“Hehh..hhh…ohh..yaaahhhhh…” desah suara Santi dengan nafas tersengal-sengal. “Ternyata nikmat juga ya main cepat seperti ini. Kamu memang hebat, Bagas sayang.”

“Kamu juga hebat,” bisikku sambil mengecup pipinya.

Aku melepaskan pelukanku. Kami duduk di tepi bak mandi. Kulihat dada Santi turun naik karena nafas yang tidak beraturan. Tubuh gadis itu tampak sensual dengan bintik-bintik air dan keringat menghiasi sekujur tubuhnya, ditambah rambutnya yang basah tergerai, benar-benar wonderful girl.

“Thanks ya, sayang,” bisik Santi sambil mengecup bibirku lembut.

“Thanks juga,” balasku sambil memeluknya.

“Lain kali, boleh nggak aku minta?” tanya Santi berharap.

Aku tersenyum dan menatapnya lembut. “Mau berapa kali?” tanyaku di telinganya.

“Ratusan,” sahut Santi meniru iklan Wafer Tango.

Kami pun segera berbilas. Setelah berpakaian dan sarapan Santi pun berpamitan. Aku menciumnya sekali lagi sebelum dia pergi.

“CD-nya nggak dibawa?” tanyaku mengulurkan celana dalam yang kemarin kukantongi.

“Nggak usah, buat kamu saja. Biar selalu ingat sama aku,” jawabnya sambil tertawa sebelum membuka pintu dan pergi.

Setelah Santi pergi, aku merebahkan diriku di tempat tidur. Aku mau tidur saja. Tubuhku terasa lelah sekali. Santi benar-benar menguras habis tenagaku. Sebelum tidur aku minum multi vitamin dan STMJ agar nanti bangun tubuhku kembali prima.

Tamat




Bersetubuh dengan pemuda afrika - 1

Setelah cukup berbual dan saling membelai, pelan-pelan batang pelir yang telah membawaku ke awang-awang itu dicabut sambil Jim menciumku lembut sekali. Benar benar aku terbuai dengan perlakuannya. Dipimpinnya aku ke kamar mandi.

Ketika aku berjalan rasanya masih ada yang mengganjal kemaluanku dan ternyata banyak sekali sperma yang mengalir di pahaku. Dan kami mandi bersama. Selesai mandi kami ke tempat tidur dan Jim memutar lagu classic untuk menghantar kami tidur.

Nyenyak sekali aku tidur dalam pelukannya, merasa aman, nyaman dan benar-benar malam ini aku terpuaskan dan merasakan apa yang selama ini hanya kubayangkan saja.

Pagi aku bangun masih dalam pelukannya. Rupanya Jim sudah bangun tapi tak mau mengganggu tidurku. Katanya aku tidur nyenyak sekali, sambil membelai rambutku. Seterusnya kami bergegas ke kamar mandi bagi menyegarkan tubuh. Ketika mandi kami saling menyabun dan bercumbu di bawah shower.

Dan tak lupa pula kami saling membersihkan kemaluan kami. Jim membersih punyaku sementara aku membersihkan punyanya. Dia menumpukan kepada kelentitku sementara aku memberi perhatian pada kulupnya. Kulit kulup aku gulung dan membersihkan kepalanya yang licin. Kepala licin inilah yang akan aku santap seabentar nanti.

Setelah bersarapan Jim lalu memintaku duduk di pangkuannya. Aku menurut saja. Terasa kecil sekali tubuhku. Sambil berbual aku dimanja dengan belaiannya. Jim meraih daguku, dan diciumnya bibirku dengan hangatnya, aku mengimbangi ciumannya.

Dan selanjutnya kurasakan tangannya mulai menyelinap di dalam kimonoku dan mulai meramas-ramas lembut tetekku, diteruskan menarik tali kimonoku dan tangannya menjalar antara dada dan pahaku. Nikmat sekali rasanya, tapi aku sedar bahwa ada sesuatu yang mulai mengeras di bawah punggungku.

Ohh, langsung aku bangkit dan aku ingin melihat dengan jelas pelirnya, disinari lampu yang cukup terang. Aku bersimpuh di depan Jim dan kubuka tali kimononya dan kuselak.

Ohh, ternyata sudah mula mengembang batang pelirnya, walau masih belum begitu mengeras. Dan kepala penisnya sudah mulai sedikit terjulur keluar lalu aku raih dan aku belai dan kulupnya kututupkan kembali. Aku suka melihatnya dan sebelum mengeras sepenuhnya aku kulum batang Jim.

Aku suka memainkan kulup pelir yang tebal dengan lidahku ketika pelir belum sepenuhnya mengeras. Bahagian hujung kulup aku gigit lembut dan kulitnya terasa kenyal seperti mengunyah sotong goreng.

Lalu kutarik kulup ke ujung, membuat kepala pelir Jim tertutup kulupnya dan segera kukulum sebelum ereksi penuh, kumainkan kulupnya dengan lidahku dan kuselitkan lidahku ke dalam kulupnya sambil lidahku berputar masuk di antara kulup dan kepala pelirnya. Enak rasanya.

Aku sedikit kecewa kerana dengan cepatnya pelir Jim makin membengkak dan kepala licin itu menjulur keluar dan kulupnya tertarik ke bahagian leher batang pelir. Jim mulai menggeliat dan berdesis menahan kenikmatan permainan lidahku dan membuat mulutku semakin penuh bila batang hitam itu makin membesar dan memanjang.

Dan rupanya Jim makin tak tahan menerima rangsangan lidahku. Maka aku ditarik dan diajak ke tempat tidur. Matanya tak berkelip melihat diriku yang telanjang dan memberi tumpuan kepada belahan kelangkangku.

"I love it and I like it Reen" ujarnya sambil membelai bulu kemaluanku yang jarang.

"Mengapa?"

"Sebab hanya sedikit bulu, dan bibir kemaluanmu bersih tak ada bulunya serta tebal bibirnya."

Aku merasakan Jim terus membelai bulu kemaluanku dan bibirnya. Kadang-kadang dicubit pelan, ditarik-tarik seperti mainan. Aku suka kemaluanku dimainkan berlama-lama, aku melirik apa yang dilakukan Jim. Seterusnya dengan dua jarinya membuka bibir kemaluanku.

Aku makin terangsang dan aku merasakan makin banyak keluar cairan dari dalam rongga kemaluanku.

Jim terus memainkan kemaluanku seolah-olah tak puas-puas memperhatikan kemaluanku, kadang-kadang disentuh sedikit kelentitku, membuat aku penasaran. Tnpa sedar pinggulku mulai menggeliat, menahan rasa geli dan nikmat. Ketika aku mengangkat pinggulku kerana kegelian, tundunku langsung disambut bibir Jim.

Terasa dia menghisap lubang kemaluanku yang aku yakini sudah penuh cairan. Lidahnya ikut menari kesana kemari menjelajah seluruh lekuk kemaluanku, kedua bibir dihisap-hisap. Ketika kelentitku dijilat dengan hujung lidahnya badanku tersentak-sentak. Terkejut kenikmatan, membuat aku tak sadar mengerang.

"Aauuhh!!". Benar-benar hebat Jim merangsangku, dan aku sudah tak tahan lagi.
"Please.. Jim.. please.. fuck.. mee.. again.." ujarku sambil menarik bantal.

Jim dengan pantas menempatkan tubuhnya makin ke atas dan mengarahkan pelir raksasanya ke arah kemaluanku. Aku masih sempat melirik waktu dia memegang torpedonya untuk diarahkan dan diselitkan di antara bibir kemaluanku. Kali ini aku berdebar kerana berharap.

Dan ketika kepala pelirnya telah menyentuh di antara bibir kemaluanku, aku menahan nafas untuk menikmatinya.

Dan batang hitam dilepaskan ketika kepala pelirnya mulai menyelinap di antara bibir kemaluanku dan menyelam secara perlahan. Pelan-pelan ditekannya dan Jim mulai mencium bibirku lembut. Kali ini aku lebih dapat menikmatinya. Makin ke dalam.. Oh, nikmat sekali. Kurapatkan pahaku supaya pelirnya tidak terlalu masuk ke dalam.

Jim mengepit kedua pahaku sehingga terasa sekali batang Jim menekan dinding buritku.

Bersambung . . . .




Bersetubuh dengan pemuda afrika - 2

Pelirnya semakin masuk. Bila separuh masuk, Jim menarik kembali seolah akan dicabut hingga tak sedar pinggulku naik mencegahnya agar tidak keluar. Beberapa kali dilakukannya sampai akhirnya aku merayu-rayu pada Jim.

Setelah Jim puas menggodaku, tiba tiba dengan hentakan agak keras, dipercepat gerakan mengepamnya hingga aku termengah-mengah.

Dan dengan hentakan keras dan dengan merapatkan serta digoyang goyangkan, sambil tangan meramas tetekku, bibirnya dahsyat mencumbu leherku. Akhirnya aku mengelepar-gelepar. Dan sampailah aku ke puncak. Orgasme.

Tak tahan aku melolong terus Jim menyerangku dengan dahsyatnya, rasanya tak habis-habisnya aku mengalami puncak kenikmatan. Lama sekali. Tak kuat aku meneruskannya. Aku memohon, tak kuat menerima rangsangan lagi, benar benar terhakis tenagaku dengan orgasme berterusan.

Akhirnya Jim pelan-pelan mengakhiri serangan dahsyatnya. Aku terkulai lemas sekali, keringatku bercucuran. Hampir pingsan aku menerima kenikmatan yang berlarutan. Benar-benar aku tidak menyesal bercinta dengan Jim.

Dia memang benar-benar hebat dan mahir dalam bercinta, dia dapat mengolah tubuhku menuju kenikmatan yang tiada tara, atau memang aku yang kurang pengalaman dalam bercinta di tempat tidur, sebab pengalamanku tidur dengan lelaki melayu semuanya mengecewakan. Lelaki melayu hanya mementingkan kepuasan sendiri.

Lamunanku melayang ketika paha Jim mulai kembali mengepitt kedua pahaku dan dirapatkan tubuhnya menindihku serta leherku kembali dicumbu. Kupeluk tubuhnya yang besar dan tangannya kembali meramas tetekku. Pelan-pelan mulai didayungkan batang besarnya.

Kali ini aku ingin lebih menikmati seluruh rangsangan yang terjadi di seluruh bahagian tubuhku.

Tangannya terus meneroka permukaan tubuhku. Dadanya yang berbulu lebat merangsang dadaku setiap kali bergeseran mengenai putingku. Dan pelirnya digerakkan dengan sepenuh perasaan, lembut sekali, bibirnya menjelajah leher dan bibirku. Ohh... luar biasa.

Lama kelamaan tubuhku yang semula loyo mulai terbakar lagi. Aku berusaha menggeliat, tapi tubuhku dipeluk cukup kuat, hanya tanganku yang mulai menggapai apa saja yang kudapat. Jim makin meningkatkan cumbuannya dan mendayungkan butuhnya makin cepat.

Geseran di dinding buritku makin terasa. Dan kenikmatan makin memuncak.

Maka kali ini leherku digigitnya agak kuat dan dimasukkan seluruh batang hebatnya serta digoyang-goyang untuk meningkatkan rangsangan di kelentitku. Empanganku kembali pecah dan aku mencapai puncak kembali. Kali ini terasa lain, tidak liar seperti tadi.

Puncak kenikmatan ini terasa nyaman dan romantis sekali, tapi tiba tiba Jim dengan cepat mengepam lagi.

Kembali aku berteriak sekuatku menikmati ledakan orgasme yang lebih kuat, aku meronta dan menggelepar. Gila, bisikku, Jim benar-benar membuat aku sengsara. Kugigit bahunya ketika aku dihujani dengan kenikmatan yang bertingkat-tingkat.

Bahagian belakangnya kucakar-cakar. Jim benar-benar membawa aku terbang ke syurga.

”Jim, cukup Jim. Aku dah tak tahan.” Aku merayu-merayu kerana kehabisan tenaga.

Mungkin kasihan mendengar rayuanku, Jim mula mendayung lagi. Mula-mula perlahan kemudian makin laju dan laju. Aku memeluk erat badannya yang berbulu. Sambil mengepam dia mengucup bibirku. Tangannya meramas tetekku.

Aku mengeliat keenakan dan Jim makin melajukan dayungannya. Lima minit kemudian aku melolong lagi dan Jim juga terasa mengejang dan pangkal rahimku terasa disondol kuat oleh bbenda tumpul.

Aku mengemut dan dinding buritku mengisap batang Jim. Jim akhirnya memancutkan air nikmatnya mencurah-curah menerpa rahimku. Senak rasanya bahagian bawah perutku diterjah batang kulup pemuda Afrika.

Batang hitam yang tak bersunat tu menganugerahkan kepadaku sejuta nikmat dan kelazatan. Aku amat berterima kasih kepada Jim yang handal.

Beberapa saat berada di atas badanku, Jim jatuh terkulai di sebelahku. Tubuh Jim melemah. Tangannya terlentang, tapi bibirnya masih menempel di puting tetekku. Aku pun terkulai lemas di sisi Jim dengan tetap memainkan pelirnya yang licin berlendir. Nikmat luar biasa, lemas. Tapi sungguh kami mendapatkan kepuasan yang tiada tara khususnya aku.

Tamat




Birahi ibu berjilbab diatas kapal - 1

Ufhhh.. akhirnya usai sudah kegiatan yang menjemukan selama 2 minggu di sini dan aku mo balik ke Jakarta untuk refresh neh oh iya namaku Andi umur 30 tahun sekarang aku bekerja di perusahaan swasta, ciri-ciri tubuhkan yahh.. untuk postur Indonesia udah cukup di perhitungkan neh.. heheheh

Besok aku mo pulang ke Jakarta setelah mengikuti kegiatan dari Perusahaan di Kota ini di ujung Timur Indonesia neh aku mo naik kapal laut aja dech karena selama ini kalau bepergian aku belum pernah naik kapal laut so akan aku coba aja dech walaupun itu di tempuh dng lama perjalanan 1 minggu wahhhh pusing juga neh setelah membeli Tiket kapal laut kelas 1 aku langsung berkemas-kemas untuk persiapan besoknya berangkat.

Tiba saatnya aku menuju pelabuhan setelah segala macam proses pemeriksaan tiket dan bercampur aduk dengan para penumpang. So akhirnya aku naik dan masuk ke kamarku yang kelas 1 dan tentunya kamar kelas 1 aku yang sendiri menempatinya langsung aku bergegas membersihkan diri (mandi neh..) setelah mandi diatas aku berjalan-jalan di Dek kapal sambil menunggu sebentar lagi kapal akan berangkat.

“Wahhh.. kalo selama 1 minggu diatas kapal tidak ada yang bisa bikin buat seger jadi tambah pusing neh.” ujarku di dalam hati.

Setelah melihat-lihat sekeling kapal dan akhirnya aku berdiri di pinggiran kapal sambil melihat kebawah siapa tau aja ada yang bisa nemanin aku selama seminggu ini hehehhe..

Mataku tertuju pada seorang ibu muda berjilbab kira-kira berumur 27 tahunan bersama anaknya yang kira-kira 5 tahunanlah dan sebelahnya di antar seorang lelaki yang kemudian mencium kening ibu itu dan anaknya setelah itu mereka berdua naik ke kapal dan tak lama kemudian kapal berangkat meninggalkan pelabuhan dan lelaki itu melambaikan tangganya kepada ibu dan anaknya setelah kapal menjauh dari pelabuhan, hmmm aku mulai mendekati ibu muda itu dan mulai berkenalan.

“Namaku Andi, aku tujuan Jakarta” ujarku.

Ibu itu sekilas melihat aku dan senyumnya mengembang di bibirnya yang tipis. Tak lama kemudian di berucap :

“Namaku Lia ini anakku dan tujuan juga ke Jakarta” ucapnya.

Akhirnya kita saling ngobrol-ngobrol dan ternyata tadi adalah suaminya yang bekerja di kota ini dan Lia setiap 6 bulan sekali datang bersama anaknya untuk melepas rindu sama sang suami.

“Walahh.. kuat juga yach.. kalo aku kagak nahannnn (hehehe)”

Besok pagi disaat waktu makan pagi aku melihat Lia bersama anaknya sedang menuju ruang makan. Aku melihat dari belakang.

“Hhmmmm berisi juga neh pantatnya, padahal sudah di tutupi gaun yang menutupi sampai mata kaki neh” ujarku dalam hati.

Llangsung aku menemuinya dan kita makan bersama-sama 1 meja. Sambil aku ngelirik ke arahnya wow sempat aku melihat bentuk payudaranya yang ditutupi oleh jilbab dan bajunya lumayan mengkal neh waduh jadi pikiran kotor neh Lia,

“Di kelas 1 juga yach” tanyaku.

“Ttidak mas aku ambil di kelas 2 aja kok” jawabnya sambil senyumnya mengembang dari bibirnya yang tipis dan basah.

“Oooohhh kalo aku di kelas 1, abis sendirian aja sih pengen tenang dan rileks aja” ucapku sekenanya.

“Lia juga sendiri kok, dari tadi malam belum ada penumpang yang sekamar dengan Lia, jadinya Lia cuma ditemani anakku aja neh” sahutnya.

“Ooh gitu yach berarti aku bisa dong main-main ke kamarmu” tanyaku.

“Bisa aja kok, kita khan di satu gang.. tadi malam mas khan sempat keluar aku melihat kok” ujarnya.

“Ooh ya aku mo cari rokok tuch semalam” sahutku lagi.

Setelah selesai makan pagi, kita bersama-sama jalan di koridor kapal sambil bercerita dan diiringi guyonan kecil-kecil. Karena di luar koridor angin cukup kencang maka saat aku berjalan disampingnya hmmm aku mencium bau wangi yang sangat harum dan melihat putihnya leher ibu berjilbab ini.

“Ooh seandainya aku dapat menidurinya” bisikku di dalam hati.

Hari kedua belum terjadi apa-apa diantara kami, namun setelah makan sore iseng-iseng aku mengetuk pintu kamarnya.

“Lia, ini aku Andi boleh aku masuk,” tanyaku.

Tak lama kemudian pintu terbuka dan muncul kepalanya yang ditutupi oleh jilbab seadanya dan menggunakan terusan daster hmmm aku liat dia tidak mengurangi kecantikan dan kemontokannya kok.

“Ssilahkan masuk mas,” ujarnya pelan.

“Maaf anakku baru aja tidur dan aku baru tidurin dia neh” sahutnya.

Dikarenakan kita nggak mau mengganggu anaknya, so kita duduk di satu tempat tidur yang lain sambil bercerita. Aku memandangnya.

“Oohhhh semakin lama disini aku semakin tidak kuat menahan birahiku” ujarku didalam hati.

Saat kita sedang bercerita dasternya tersingkap sampai dengan lututnya.

Uuppss.. spontan aku mengatakan,

“Mulus sekali kakimu Lia yah.. pasti kamu rawat dengan baik dan secara sempurnya,” ujarku sambil tanganku mengelus-elus betisnya secara refleks.

Langsung dia menarik kakinya dari tanganku sambil berujar.

“Aah mas Andi bisa-bisa aja nih”

Senyumnya mengembang dari bibirnya yang tipis dan basah namun aku tetap memegang betisnya dan bahkan menggeserkan tanganku keatas.

“Aah Mas jangan gitu ach nggak enak neh” sahutnya.

Namun aku tak berkata-kata lagi langsung aku sibakkan dasternya sampai ke pahanya dan langsung kuciumi dan kujilati pahanya.

“Ssluuurrrppp.. Ohhhhhh Mass jangan dong” ujarnya.

Namun Lia tidak menarik pahanya dari mulutku tangannya malahan memegang kepalaku dan seolah-olah menekan-nekan.

“Ssluurrrppp… slururrpppp.. ssshhhh oh mas jjaannn… gannn.” pekik Lia pelan.

Namun aku tetap melanjutkan jilatanku sampai ke pangkal pahanya dan secara cepat aku menarik celana dalamnya turun dan

Ssluuurrrppp kujilati memeknya yang penuh dengan bulu-bulu.

“Ooohhhh mas Andiii… oohhh” desahnya.

Kujilati itilnya slururpp… sluruppp…

“Shhhh ohhh mass aduuuhhh ahhhh” jeritnya pelan setelah sekitar 15 menit aku bermain lidahku di memeknya.

Langsung aku memberhentikan kegiatanku dan kuangkat kepalaku keatas kulihat Lia memejam matanya menahan kenikmatan yang baru dia rasakan.

Oohhh aku liat begitu indah pemandangan didepanku. Ibu muda, cantik dan berjilbab menggunakan daster setengah telanjang sedang menanti kontol neh langsung kuhampiri bibirnya yang sedari kemarin aku inginkan sluuup.. smmm hmmm kita langsung bersilat lidah. Tak lupa tanganku menggerayangi payudaranya.

“Oohhh mas.. pintar sekali kamu, ohhhh.. achhh..”

Kuturunin lidahku menuju payudaranya dan kugigit-gigit kecil dari luar dasternya.

“Oohh.. mass cepaattt nanti anakku bangun” bisiknya pelan langsung tanpa ada yang perintah.

Bersambung . . . .




Birahi ibu berjilbab diatas kapal - 2

Kubuka celana panjang dan sekalian celana dalamku.

“Uupps besar sekali mas punyamu” sahutnya.

“Silahkan lia apa yang kamu inginkan” ujarku.

Lia langsung menyodorkan mulutnya dan menghisap kontolku dengan mahirnya.

“Uugghhhhff Lia kamu pintar juga yach sama suamimu juga sering beginian yach?”

“Mmmrmmmrpp.. nggak masss jarang kok”

Setelah sekian menit aku langsung memberhentikan isapannya pada kontolku dan langsung menaikkan dasternya tanpa melepas jilbabnya dan Lia membuka kedua pahanya menanti kontolku memasuki dirinya.

“Ayok mas.. cepatan”

“Oohhggghh”

Ppelan-pelan kutempelkan kontolku di permukaan memeknya.

“Ooufghhhh”

Baru aja kepala kontolku masuk udah terasa nikmat.

“Dooorong mas enaeekkk mass oughhhh”

Kudorong pelan-pelan masuk dan

Bleeeeeeeeeesss..

“Uughhf”

Aakhirnya masuk semua kontolku kedalam memeknya. Kudiami beberapa saat dan mulailah kupompa kontolku di dalam memeknya.

Srooopp.. croopppp slerrrrpp…

“Oohhh enak sekali memekmu Lia..”

“Iiiyyyyaa kontolmu juga enak mass… oohhh terusin mass.”

Aku sengaja tidak membuka jilbab dan dasternya takut kalo anaknya tiba-tiba bangun.

“Teruuusss mass yang cepatt ooohhh sruuuppp sreettt croooppp..celllelel ppp..belle”

Aku pompa terus memeknya sampai kira-kira setengah jam kulihat Lia sudah mulai tanda-tanda mau keluar.

“Oohhh mass cepatannnn.. Lia udah mo keluar…”

“Sabarr yah.. mas juga udah mau keluar yah uggghh Lia.. kita sama-sama keluarin yah ooohhh sllluuppp oohhh achhhh..”

Aakhirnya Lia telah keluar dan semenit kemudian menyusul aku menyemprotkan air maniku ke memeknya.

Crootttt.. crroooot… corootttttt….

“Uuuffhhhh.. mas banyak sekali air manimu neh”

Setelah kita tenang langsung Lia ke kamar mandi membersihkan air maniku yang mulai meleleh di pahanya aku menunggu dia keluar dari kamar mandi dan aku bilang minta maaf yah bahwa aku kebawa nafsu sih dia bilang nggak apa-apa kok sama dengan dia juga aku mohon izin untuk kembali ke kamarku dulu dikarenakan jam sudah menunjukan pukul 10 malam.

Besok pagi disaat waktu makan pagi, aku mengetok kamarnya.

“Lia kita sarapan pagi yook” ujarku pelan.

Tak lama pintu terbuka dan Lia telah siap dengan pakaian longdres panjang dan berjilbab. Uuugghhh cantiknya dia dan menyilahkan kumasuk.

“Anakku belum bangun neh” jawabnya.

“Jadi gimana dong..”

“Kita tunggu bentaran aja yach” tanyanya.

Akhirnya kita ngobrol-ngobrol.

“Eehh.. udah sekitar setengah jam.. anaknya belum bangun juga neh.”

Tau-tau kita malahan saling pegang-pegangan tangan.

“Lia kamu cantik sekali” ujarku.

“Aach mas ini.. Lia biasa-biasa aja kok” ucapnya.

Malu-malu langsung kususup lidahku ke mulutnya.

“Mhmmmmpppff jangan ach mas ntar anakku bangun lho” sahutnya.

“Sebenntarr aja yach Lia” ucapku memelas.

“Hhmmmm gimana yach” jawab Lia.

Ttanpa menunggu jawabannya langsung kuciumi bibirnya yang merah dan basah itu.

“Ssluruurupp hmmpfghh oohhh.. masshh..”

Llangsung kumainkan lidahku di dalam mulutnya.

“Cuupppss smshhsh oohh..”

Tanpa membuka jilbabnya langsung kunaikkan longdressnya. Kuturunin celana dalamnya.

“Ooohhh udah basah juga neh memeknya”.

“Sssss.. ssss mas… oohhh..”

Cepat-cepat kubalikin dia aku pengen gaya nungging.

“Oohhh mas…”

Kuangkat kakinya satu dan mulai kutusukkan kontolku.

“Sssss oougghhh.. blessss sssssllreepp mmrrpp oohhh mas nikmat sekaliii…”

“Liiaa memekmu juga enaakakk.”

“Ooougghhhaaa ooohhh yang cepat mas..”

Bersambung . . .  .




Birahi ibu berjilbab diatas kapal - 3

Kupompa kontolku.

Srooortkkk.. sluururppp sreet bellsss..

“Uufghhh masss enak sekali… hmmmm”

“Iya yyahh oohhh.. Lia ayookk kita keluarin bersama-sama”

“Oooggghh mass… aku mo keluarrrrr oogghhrrr ahhhhh…”

Langsung badannya Lia jatuh ke tempat tidur sambil tetap menungging membelakangi aku dan tanpa menunggu lagi kutusukkan kontolku lagi .

Bleessssssssss…

“Ooohhhh masss enakkk… cepattttaaannn iiiiiyya Lia..”

“Oooohh mas hampir keluar neh…”

“Ooghhhs… oohhhh Liaa… siiappp…”

Croootttttt… croottt… crooott… ughhh…

Tumpah ruah air maniku kedalam memeknya lagi tak lama air maniku keluar. So anaknya juga udah mulai bangun dan kita langsung bereskan diri dan menuju ruang makan.

Selama empat hari kita selalu bercinta, namun Lia tidak pernah telanjang alias jilbab dan bajunya masih menempel di badan dan aku pun tak mempermasalahkan itu yang penting memeknya yang ranum hhmmmm hingga suatu malam hari ke enam dan rencananya besok kapal kita sudah nyampe di Jakarta aku sedang santai sambil tiduran di dalam kamar hanya mengenakan celana pendek.

Tok tok kudengar ketukan pintu kamarku,

“Siapa yah?” tanyaku.

“Ini Lia mas” jawab suara diluar.

Serta merta aku berdiri dan membuka pintu hmmm.. Kulihat Lia hanya mengenakan daster panjang tanpa mengenakan jilbab.

Oohhhh.. cantiknya dan putih sekali lehernya itu semenit aku terpana di depan pintu.

“Mas boleh aku masuk?” tanyanya langsung.

Aku tersentak kaget.

“Ooh iya.. ya silahkan Lia” sahutku.

“Ada apa ne Lia, malam-malam kesini?” tanyaku.

“Ndak neh aku mo nanya aja.. besok khan kita udah nyampe Jakarta, trus mas langsung pulang yah” tanyanya.

“Iya sih soalnya lusa udah masuk ngantor” terangku kepadanya.

“Ooooohh.. ya udah deh Lia langsung pulang ke kampung aja dech..” jawabnya.

Setelah kita ngobrol panjang lebar. Lia pamitan mo kembali ke kamarnya, dikarnakan jam udah menunjukan pukul 9 malam, namun disaat dia mo berdiri, kupegang tangannya dan kuciumi sambil kujilati telapak tangannya sampai ke pangkal lengannya.

“Ooouuhhh mas geli ahh”

Tanpa kujawab kujilati lehernya yang putih mulus itu.

Sluurrppp.. slurppp shhhh ssss.

“Ooohh mas sluurrp.”

Kutelusuri lehernya yang jenjang kadang kugigit-gigit kecil.

“Ooowhh massss ohhh..”

“Lia aku ingin bersamamu malam ini” ujarku dia diam sambil menundukkan kepalanya.

Hhmmmmm.. tanpa tunggu jawabannya langsungku gendong dan kubawa ke tempat tidur mulai kuciumi bibirnya yang ranum.

Rhmmmm.. sluruppp… ssshhmm… ohssss…

“Lia sungguh enak bibirmu..”

Hhmmsfh.. kubuka perlahan-lahan dasternya oohhhh ternyata Lia tidak memakai BH dan celana dalam.

Ssluruuurpp slururpp hmmmm langsung kujilati payudaranya yang putih mengkal. Sluuruppp..

“Oohhhssss masssnnns tertuuuusss” ucapnya terbata-bata.

Kutelusuri lidahku ke memeknya yang rimbun.

Ssluruuupp.. kujilati itilnya oohhhhsss… langsung kubalikkan badanku tepat kontolku di mulutnya… slruuup oougfhhh hmmmsssllii pp kontolku langsung diisapnya sambil tak lupa kuhisap juga memeknya yang ranum ini.

“Oohhh mas… aku udah nggak tahan… tuussuuukk mas… “

“Saabbarrr Lia aku ingin malam ini berkesan sekali” ujarku.

Ooohhsusss kujilati terus sampai terasa banyak lendir yang keluar dari memeknya Lia.

“Massssssss…”

Langsung kuubah posisiku dan siap-siap kutusukkan kontolku ini.

Sslleeeeerrpp.. blesssshh.. oohhhhh.. crororlkkk crorokk.. crokk..

“Oohh mas.. enak sekali”

Kuangkat kakinya yang satu sambil terus kupompa kontolku.

“Smsmshhgg oouuhhh.. mass teruskan masss… ennaakkk”

Bersambung . . . .




Birahi ibu berjilbab diatas kapal - 4

Sroorkkk.. cororkk setelah setengah jam.. saat-saat aku mo keluar… langsung kuminta Lia untuk berbalik dan kutusukan kontolku lewat belakang (gaya doggy).

“Ooougghhhh enak sekali memekmu Lia.” sahutku.

Blesss blesss..

“Mass enakk..”

Kupompa kontolku secara cepat dan akhirnya..

“Lia kita keluarin sama-sama yah”

“Iiiiiiyyya mass ohhhuuu sssss..hhhh massss aaaaaaaaaahhhh..”

Kuteriak agak keras dan akhirnya air pejuku muntah juga kedalam memeknya.

“Ooh mas enak sekali Lia lemas neh” sahutnya.

Setelah beberapa menit… Lia mohon pamit kembali ke kamarnya karena sudah tinggalin anaknya 3 jam tuh.. akhirnya aku juga tidur.

Keesokan harinya kita berdua terlambat bangun pagi.. dan aku pikir lebih baik bersiap-siap aja untuk beberapa jam akan sandar di pelabuhan Tanjung Priok saat aku lagi berbenah-benah. Kudengar ketokan di pintu dan suaranya Lia terdengar dari luar sana,

“Mas.. udah siap-siap yah..?” tanyanya.

“Iya neh..” sambil kulirik dia membawa anaknya.

“Ayo masuk dulu..” jawabku.

“Lia udah siapin barang-barangnya yah?” tanyaku.

“Ya udahlah mas, maka itu kita kesini mo memastikan, siapa tau mas masih belum bangun gara-gara semalam” bisiknya di telingaku.

“Hhhmmm Lia kamu itu makin menggemaskan aja” sambil kucolek pantatnya.

“Wow kelihatannya dia nggak pake celana dalam neh.” ucapku dalam hati aku jadi pengen buktiin neh tapi bagaimana yach? Soalnya dia bersama anaknya neh dan sebentar lagi kira-kira 2 jam-an udah mo nyampe di pelabuhan neh waaahhh. Aku jadi tambah panas dingin neh kulihat lia menghempaskan pantatnya di tempat tidurku anaknya juga disebelahnya.

“Lia kamu kok tambah cantik yah, memakai jilbab dan terusan (longdress) itu” ujarku.

“Aahh mas ini pasti kalo ngebilang itu ada maunya yach” selidiknya sambil senyum.

“Tau aja” sahutku.

Sambil kubereskan pakaianku dan kumasukin ke dalam tas, kulihat anaknya udah mulai rewel neh ndak tau kenapa yah. Kali aja udah mulai ngantuk atau udah tau yah mamanya mo pikiran ngeres mama.

“Ari kembali ke kamar dulu yach” tanya anaknya.

“Mo ngapain Ri?” tanya mamanya.

“Mo bobo bentaran aja ngantuk neh”

“Oohh ya udah kalo gitu, ntar lagi mama nyusul khan tinggal sejam lagi kita nyampe Ari bobo dulu yah ntar mama bangunin” sahut mamanya.

Langsung serta merta Ari pamit ke kamarnya dan kututup pintu kamarku. Tanpa menunggu lama lagi kuangkat longdressnya.

“Ooohhhh.. mass mo ngapain?” pekik Lia.

Hhhmmmmppp betul yang kuduga Lia tidak pake celana dalam pasti udah mo ngerasain kontolku lagi yah langsung kujilati saja memeknya.

Ssluuurppr… sluurprp…

“Ooughhs hmmmmss.. masss achhh mass”

Setelah sekian menit langsung kuangkat kakinya satu di atas tempat tidur dan kutusukan kontolku ke memeknya.

Blessssss… srelllpp… slleeeeeppp… bleessss…

“Oooouughhh massssss… nikkmmaattt… ssssscloopp… clop..”

Karena waktu yang terbatas aku semakin cepat memompa memeknya.

Ccroooppp.. cloppp.. bunyi paha kita beradu.

Ssluruuru blessslsss.. sssshh..

“Masss aku sungguh tidak bisass melupakanmu”

“Oooohhh.. Liiaaa mmemekmu sungguh legiiit”

Sslreeepp.. sloopp..

“Cepatan mas”

Langsung kupompa lebih cepat lagi dan akhirnya

“Ooooooohhhh aaaaaaaahhhh Lia siaapp aku mo keluar uuggghhh…”

Ccroooot… croottt.. croooot pejuku keluar langsung mengisi rahimnya lagi.

“Oooohhh mas sungguh nikmat kontol dan air manimu itu” sahut Lia.

Langsung tak lama pengumuman dari ABK bahwa setengah jam lagi kapal akan bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok serta merta kita berdua bergegas merapikan kembali pakaian dan Lia kembali ke kamarnya dan aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lagi. Sebelum aku mandi kubilang sama dia.

“Ppake celana dalammu yah, soalnya nanti bisa diliat orang dan takutnya nanti aku minta lagi neh” ujarku dibalasnya Lia dengan memegang kontolku.

“Hhmmmmm kontol yang nikmat” ujarnya.

Kapal sudah berlabuh di pelabuhan dan kita berdua sudah tiba di dermaga dan saatnya kita berpisah. Masing-masing dari kita memberikan alamat rumah dan berharap di lain waktu kita bisa bertemu lagi lambaian tanganku menyertai kepergian Lia dan anaknya ke kampungnya. Oh Lia engkau memang birahi yang tak pernah padam walaupun tubuhmu tertutup jilbab dan gaun panjang namun kamu tidak bisa mempungkiri hatimu.

Tamat




Cinta sang bidadari buat Alfi - 1

Penerbangan dari kota S sudah lima belas menitan mendarat. Penumpang pertama terlihat keluar dari pintu. Kemudian di susul oleh penumpang berikutnya diiringi oleh seorang porter yang menyeret sebuah troli yang penuh oleh tumpukan koper dan barang lainnya. Dalam hitungan detik suasanapun menjadi hiruk pikuk. Para supir taxi menyongsong setiap penumpang yang keluar. Mereka memang selalu begitu. Berebutan menawarkan jasa tanpa memikirkan kenyamanan orang lain. Sementara itu beberapa petugas bandara sudah semakin kewalahan menertipkan para penjemput yang semakin menjejali pintu. Bandara Kota H memang kecil. Ruangnya sempit dan pintu keluarnya cuma satu. Ditambah lagi orang-orangnya yang susah di atur. Sandra terlihat berupaya untuk keluar dengan susah payah di antara kerumunan orang di sana. Beberapa kali ia harus mengucapakan ‘permisi’ kepada setiap orang yang menghalangi jalannya.

“Hhhhh!” akhirnya ia baru bisa lega setelah duduk di dalam taxi.

“Apartemen xxx, pak” katanya pada pak sopir.

Untungnya barusan Didiet menelpon bahwa Paijo batal menjemputnya tanpa menyebutkan alasannya. Tadinya ia sudah membayangkan perjalanan ini akan semakin menjadi lebih menjengkelkannya. Setidaknya ia masih bisa punya waktu buat rilek sejenak sebelum memulai ‘perang dunia ke-lima’ dengan Didiet setibanya di apartemen nanti. Dua puluh lima menit kemudian ia tiba di apartemen. Senyum ramah dan sapaan dari petugas security di loby tak terlalu ia hiraukan. Ia melangkah cepat menuju ke Lift. Selama di dalam Lift ia berusaha mengingat ulang apa saja yang akan ia utarakan kepada suaminya nanti. Sambil menguatkan tekat untuk menolak setiap permintaan aneh Didiet sekalipun Didiet memaksanya melakukan itu. Ternyata Didiet sendiri yang membukakan pintu baginya.

“Hai” sapa Didiet seraya mengambil alih travelbag dari tangan Sandra. Lalu mendaratkan kecupan tipis di bibir istrinya.

Hari ini Sandra hanya memakai olesan tipis di wajahnya. Namun di mata Didiet itu hampir tak ada pengaruhnya. Kecantikan yang dimiliki Sandra memang luar biasa.

“Hmmm” Sandra menanggapinya dengan dingin. Begitu masuk pandangannya langsung memindai ke seluruh sudut ruangan. Namun ia tak menemukan apa yang ia cari.

“Mana anak itu?!” tanyanya ketus.

“Paijo maksudmu, Say? Ia masih tidur. Nanti saja kangen-kangenannya. Lebih baik engkau beristirahat dulu pagi ini”

“Apa!? Kangen-kangenan katamu?! Siapa juga yang kangen pada anak kampung itu!” Sandra langsung meledak sambil membesarkan mata.

“Aduhhh aku kan cuma bercanda, Say. Tapi aku justru suka melihat dirimu kalau sedang marah. Semakin menggemaskan!”

Wajah Sandra sempat merona. Tetapi ia tak mau kegombalan Didiet mempengaruhinya kali ini.

“Aku benar-benar tak percaya engkau melakukan semua ini! Buat apa engkau mengajak anak itu kembali!” ujar Sandra terus masuk ke gigi lima persneling dan tancap gas.

“Sabar say. Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya padamu”. Ujar Didiet dengan santai. Nyata sekali ia sama sekali tak terprovokasi oleh keberangan istrinya yang molek itu.

“Tidak perlu Dit! Aku sudah tahu semua rencanamu. Mungkin engkau bisa memaksa Nadine memenuhi hasrat liarmu pada anak itu namun tidak kepadaku!”

“Lho, Aku tak pernah memintamu datang kemari buat bercinta dengan Paijo.”

“Paijo yang mengatakannya kemarin di telepon!”

“Ha ha ha! ” Didiet tertawa geli.

“Dit! hentikan ini tidak lucu, tahu!”

“Ha ha Baik baik ….sabar dulu. Waktu itu kami hanya mengodamu.”

“Maksudmu Paijo tak sungguh-sungguh ingin bercinta denganku, begitu!? Huh!!”

“Iya, Say “

“Aku tak percaya kalian berdua tak menginginkan itu! Buktinya Nadine?!”

“Itu soal lain. Sungguh! Aku sama sekali tak memaksa Nadine. Hari itu aku terlalu lelah buat melakukan kewajibanku sebagai suami kepada Nadine. Aku cuma menawarkan kepadanya. Kalaupun ia tak bersedia akupun tak akan memaksa. Dan Nadine sendiri setuju. Ia menganggap itu murni hanyalah karena seks! tak ada perasaan sama sekali terhadap Paijo”.

“Aku sangat mengenal Nadine, Dit!. Ia tidak pernah menyukai Paijo. Kalau bukan karena ingin menyenangkan dirimu ia tak mungkin mau melakukannya dengan anak itu”

“Kenyataan yang terjadi Nadine justru sangat menginginkan persetubuhan malam itu. dan ia terpuaskan oleh anak itu. Sand, Paijo hanya memberi Nadine apa yang seharusnya Alfi rutin berikan padanya.”

Sandra mengakui.Didiet memang benar. Belakangan ini Alfi memang sudah kewalahan mengatur waktu buat memenuhi kebutuhan biologis dari sekian banyak wanita yang ada di dalam kehidupannya. Bahkan Sandra baru sadar jika Nadine memang tidak di intimi Alfi selama lebih satu bulan terakhir ini. Bukankah dulu ia sendiri mengalami hal yang serupa tatkala Alfi jarang mendatanginya. Bagaimana ia begitu frustasi mengharapkan belaian Alfi sehingga akhirnya ia tergoda melakukan perselingkuh dengan Paijo. Jadi wajar saja bila Nadine akhirnya juga terseret dalam permasalahan yang sama dan memutuskan buat melakukan perselingkuhan.

“Tetapi bagaimana bila Alfi sampai mengetahui hal itu? Dan ia pasti akan kembali meradang”

“Seharusnya Alfi tak perlu cemburu bila ia memang sungguh-sungguh ‘hanya’ mencintaimu.” ujar Didiet memberikan penekanan pada kata ‘hanya’ pada ucapannya.

Ya! Didiet benar lagi soal itu. renung Sandra. Meski Alfi menyatakan sangat menyintai dirinya namun Alfi belum pernah membuktikan kesetiaannya. Sampai saat ini ia masih saja menebarkan cinta kepada banyak wanita. Dan Sandra yakin jumlah kekasih Alfi akan selalu bertambah seiring dengan waktu.

“Aku maklum dengan kekuatiranmu itu. Namun tak semestinya engkau berprasangka buruk terlebih dahulu kepada kami berdua. Aku tak akan pernah memaksamu melakukan apa yang tak ingin engkau lakukan Say. Begitu juga dengan Paijo. Ia tahu engkau sudah menjatuhkan pilihanmu kepada Alfi. Dan ia sadar jika ia sudah tersingkir dalam persaingan memperebutkan dirimu ketika mengetahui engkau hamil oleh Alfi” ujar Didiet lagi

“Maaf aku Dit. Aku hanya tak ingin hubunganku dan Alfi kembali memburuk. Perbuatanmu mengajak Paijo kemari sungguh membuatku bingung dan kuatir, Dit”

“Tak usah di masukan ke dalam hati Say. Aku memang belum bercerita kepadamu apa alasanku membawanya kemari”

– – – – –

“Sewaktu engkau memberi kabar bahwa Alfi sudah pulang maka kuputuskan untuk langsung berangkat kemari dengan mengunakan pesawat dari kota H. Dalam perjalanan menuju ke kota H aku melintasi desanya bik Iyah. Aku berhenti sejenak di sebuah Puskesmas kecil di desa itu buat meminta obat karena kepalaku mendadak puyeng. Di sana aku malah menemukan Paijo sedang terbaring di ranjang puskesmas sambil menangis. Kulihat banyak bekas penganiayaan di sekujur tubuhnya. Mantri yang mengobatinya mengatakan bahwa Paijo telah menjadi korban penganiayaan oleh beberapa begundal suruhan seorang tuan tanah di sana. Darinya juga aku mengetahui kejadian sebenarnya bahwa ternyata bukan Paijo yang telah menghamili Surti. Gadis itu hamil oleh Ipung pacarnya sendiri yang merupakan anak tuan tanah kaya di kampungnya. Hal itu terjadi beberapa bulan sebelum Paijo datang ke rumah kita. Karena Ipung takut bertanggung jawab maka Surti mencari jalan buat menutupi aib tersebut. Paijo yang naïf, ia benar-benar tak tahu hanya dimanfaatkan oleh Surti. Surti menjebaknya dengan keintiman. Lalu satu bulan kemudian ia mengaku telah hamil. Surti juga tahu Paijo tak akan menolak bila dimintai tanggung jawab karena sangat ngebet padanya. Permasalahan baru muncul saat Paijo pulang ke desa, ternyata istrinya sudah diboyong oleh Ipung ke rumah besar orang tua-nya. Ipung yang tak senang akan kepulangan Paijo lalu memerintahkan beberapa karyawan perkebunan ayahnya buat mengusir Paijo dari kampung itu sekaligus menjauhkannya dari Surti untuk selama-lamanya. Tak ada seorangpun yang mau membelanya atau menolongnya saat ia di aniaya.”

“Bagaimana mungkin orang-orang di sana membiarkan hal seperti itu terjadi padahal mereka tahu Surti adalah istri Paijo?” timpal Sandra. Tanpa sadar timbul rasa ibanya terhadap nasib buruk yang selalu menimpa diri Paijo.

“Orang-orang di desanya segan terhadap keluarga Ipung yang kaya raya. Mereka lebih memilih untuk tidak ikut campur tangan dengan urusan itu. Dan satu hal lagi faktanya pernikahan antara Paijo dan Surti sesungguhnya tidaklah syah sebab mereka tak pernah benar-benar dinikahkan oleh keluarga Surti. Tak ada penghulu bahkan tak ada buku nikah. Mereka cuma tinggal serumah tanpa ada ikatan resmi”

“Sungguh malang nasib anak itu. Tadinya kupikir setelah kusuruh pulang ia akan menemukan kebahagiaan di sana.”

“Namun itulah kenyataan hubungan antara Surti dan Paijo. Seakan kemalangan selalu identik dengan orang-orang seperti dia. Nasibnya tak seberuntung Alfi. Di desa itu tak ada seorangpun yang mau mengurusinya. Lantas karena kasihan akhirnya kuputuskan mengajaknya kemari bersamaku. Aku memang sengaja tak membawanya ke rumah kita di kota S karena aku tak ingin terjadi permasalahan lagi dengan Alfi. Namun demikian apabila engkau keberatan aku akan segera memindahkannya ke sebuah tempat kos” ujar Didiet mengakhiri penuturannya.

“Baiklah Dit. Aku bisa mengerti alasanmu mengajaknya kemari. Aku juga tak keberatan ia tinggal di sini buat sementara waktu asalkan engkau berjanji tak memintaku bercinta dengannya”

“Tentu Say. Bukankah sejak tadipun aku sudah mengatakannya. Akupun tak ingin membuatmu resah apalagi mengingat engkau sedang dalam keadaan hamil.”

Bersambung . .  . .




Cinta sang bidadari buat Alfi - 2

Hari-hari berlalu dengan tentram. Sandra tak lagi mempermasalahkan lagi urusan Paijo. Tetapi meski demikian ia tetap menjaga jarak dengan anak itu. Hampir setiap malam ia dan Didiet bercinta. Namun hanya sebatas melakukan oral seks. karena Sandra takut akan terjadi masalah terhadap kandungannya. Sementara itu tanda-tanda kehamilannya mulai terlihat. Rasa mual mulai sering ia rasakan. Waktu berjalan hampir dua minggu dan sampai detik ini tak terjadi hal-hal yang dikuatirkan Sandra. Sandra baru bisa bernapas lega karena baik Didiet maupun Paijo benar-benar menunjukan konsistensinya terhadap omongan mereka. Dan yang paling menggembirakan buat Sandra karena lusa ia akan pulang ke kota S.

“Mengapa ia belum juga sarapan?” Tanya Sandra heran pada suatu pagi saat menemani Didiet sarapan.

“Kukira anak itu masih terluka. Bercinta dengan Nadine ternyata tak lantas membuatnya melupakan Surti. Entah bagaimana ia harus melewati hari-harinya setelah ini. Sampai sekarangpun anak itu masih sering menangisi kemalangannya meski ia melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Biarkan saja. Nanti juga ia akan makan kalau ia sudah merasa lapar” ujar Didiet menanggapi.

Sandra menemukan kenyataan bahwa kini Paijo benar-benar telah banyak berubah. Ia jadi sangat pendiam. Terkadang Sandra melihat anak itu sering melamun. Namun ia ragu buat memulai dialog dengan anak itu. Tak lama setelah Didiet pergi Lila menelponnya.

“Hi, La. Ada apa ?”

“Ada yang perlu kusampaikan padamu. Ini berkaitan dengan pemeriksaan kehamilanmu tempo hari”

“Apakah ada kelainan atau …” tanya Sandra cemas.

“Tenang janinmu sehat kok.”

“Hhh! Syukurlah! Aku tadi sudah kuatir kalau-kalau ada masalah dengan janinku”

“Tidak. Aku hanya memberi tahumu bahwa sesuai dengan perhitungan kalenderku saat ini kehamilanmu telah memasuki usia sembilan minggu”

“Apakah tidak salah La? Bukankah seharusnya ini baru akan masuk minggu ke-5?”

“Tidak Sand. perhitunganku akurat untuk itu” tegas Lila

“Minggu ke-9? Ituu. .be rar ti….”

“Ya Sand, Sudah terjadi pembuahan sebelum Alfi ‘mencampurimu’. Dan bisa kupastikan ayah dari janinmu yang sesungguhnya adalah…. Paijo”

Pernyataan Lila sungguh sangat mengejutkan Sandra.

“Tidak mungkinn,La!..A.aku tahu persis aku belum hamil pada saat itu”

“Engkau keliru. Alat test kehamilan yang engkau pakai tak bisa dijadikan patokan.

Usia kandungan ditentukan dari kapan terakhir seorang wanita tak mendapatkan haidnya.”

Hening. Sandra tahu ucapan Lila selalu didukung oleh bukti klinis. Lila tahu saat itu Sandra sedang memikirkan semua yang ia sampaikan barusan.

“Maafkan aku Sand. Aku tak memberitahumu soal ini sejak awal. Aku tak ingin merusak kebahagianmu dan Alfi saat itu. Aku sebenarnya tak ingin hal itu menjadi dilema dan beban pikiranmu namun aku harus tetap harus mengatakannya padamu”

“Tidak apa-apa, La. Aku bisa mengerti. Aku justru berterima kasih atas perhatianmu” ujar Sandra.

Lila sudah melakukan sesuatu hal benar. Ia harus tahu ayah biologis dari janin yang dikandungnya. Sehingga dengan begitu apabila dikemudian hari ada permasalahan yang membutuhkan pertolongan dari sang ayah biologis anaknya, dia tahu harus mencari siapa. Untungnya Nadine memakai kontrasepsi saat bercinta dengan anak itu jika tidak dia juga pasti akan terbuahi oleh Paijo.

“Ada satu berita lagi buatmu, Sand. Namun yang satu ini akan sangat mengembirakan. Aku melihat ada dua janin di rahimmu”

“OHH! K KKEMBARR! Benarkahh, Laa?!”pekik Sandra girang.

“Aku tak mungkin salah lihat. Mudah-mudahan saat engkau pulang nanti kita bisa melihatnya semakin jelas melalui alat USG. Sekali lagi selamat buatmu ya, Sand”

“La, a..akuu tak tahu harus bicara apa. Di satu sisi aku benar-benar bahagia mendapati aku bakal memiliki dua orang bayi namun di sisi lain akupun merasa kuatir jika suatu saat Alfi mengetahui bahwa sesungguhnya bukan dia yang berhasil menghamiliku”

“Menurutku saat ini nikmati saja dulu kebahagiaanmu. Perlahan-lahan kita cari cara buat memberi pengertian pada Alfi. Oya jangan lupa atur menu makananmu sebab janinmu memerlukan asupan nutrisi sejak dini ”

“Terima kasih, La. Oya bagaimana dengan kandunganmu sendiri?”

“Ini sudah masuk bulannya bagi dia lahir. Hmmm…Kira-kira dia akan mirip denganku atau Alfi ya, Sand?”tanya Lila.

“Mudah-mudahan ia lebih mirip ke kamu, La. Biar kalau sudah gede dia ga minder-an sama Alfina dan Fini hi hi”

“Hi hi benar juga katamu. Eh Sand..sudah dulu ya. Aku jadi ingat ada yang harus aku beli buat Fili”

“Fili? Engkau memberinya nama itu? Hi hi Baiklah kalau begitu.. Daagg!”



Setelah menutup pembicaraan Sandra termenung memikirkan semua rankaian kejadian ini. Sungguh tak ia sangka ternyata justru Paijo yang berhasil membuahinya. Tidak tanggung-tanggung, Paijo justru memberinya dua orang bayi sekaligus. Ia benar-benar menjadi serba salah bagaimana harus bersikap kepada anak itu. Soalnya akhir-akhir ini ia telah memperlakukan anak itu secara kurang baik. Lalu bagaimana juga dengan Alfi? Bagaimana reaksinya bila mendengar berita ini. Sandra jadi benar-benar bingung.

“Buu…ibu tidak apa-apa?”

Terdengar seseorang menegurnya.

“Eh ohh kamu Jo. Ya aku tidak apa-apa. Kenapa?” Sandra benar-benar tak menyadari kehadiran anak itu di situ.

“Syukurlah sedari tadi saya sudah memanggil ibu berkali-kali tapi ibu tak menyahut”

“Ohh begitukah? Em ada apa Jo?”

“Saya cuma mau mengembalikan ini sama ibu” ujar Paijo sambil menyodorkan sebuah amplop.

“Apa ini Jo?”

“Itu uang yang dulu ibu kasih ke saya buat istri saya melahirkan. Saya kembalikan ke ibu karena ternyata sudah tidak diperlukan lagi”

“Tak perlu dikembalikan. Jo”

“Tapi buu”

“Simpan saja. Suatu saat engkau pasti membutuhkannya”

“Terima kasih bu. Tapi kalau ibu tak keberatan saya mau titip uang dari ibu ini buat bu de saja.”

Sandra mengeleng-gelengkan kepala. Anak ini tak jauh berbeda dengan Alfi. Agak keras kepala. Namun memiliki hati yang baik.

Bersambung . .  . .




Cinta sang bidadari buat alfi - 3

“Hmmm…Baiklah jika itu keinginanmu. Begitu aku pulang lusa langsung akan kusampaikan pada bik Iyah”

“Terima kasih bu. Saya juga sekalian mau pamit ke ibu karena mulai minggu depan saya tidak tinggal di sini lagi”

“Lho kamu mau kemana?”

“Saya diterima kerja sebagai buruh angkut di sebuah pertambangan milik temannya pak Didiet di pulau K.”

“Pulau K? itu jauh sekali, Jo”

“Iya. justru itu saya minta tolong ibu. Siapa tahu saya bakal lama baru bisa bertemu sama bu de lagi”

“Apakah engkau sudah pikirkan matang-matang keputusanmu itu? Bekerja di tempat seperti itu begitu berat bagi anak seusiamu”

Aneh! pikir Sandra. Mengapa jauh di lubuk sanubarinya muncul perasaan tak tega melihat anak ini pergi? Mengapa ia tak ingin Paijo harus terus menerus berkutat dalam penderitaan selama hidupnya? Jelas itu lebih dari sekedar hanya rasa kasihan.

“Tidak apa-apa kok bu. Saya harus kerja supaya bu de bangga sama saya. Dengan begitu saya juga bisa ngasih ke bu de uang yang banyak. he he” Paijo mengucapkan hal itu dengan kebanggaan.

“Jo kamu sebenarnya anak yang berbakti. Baik-baiklah kamu di rantauan dan pandai-pandailah membawa diri, ya”.

“Ya bu, terima kasih atas nasehatnya”

Paijo sudah akan melangkah keluar namun ia berbalik lagi.

“Oya saya lupa beri selamat sama ibu.”

“Selamat buat apa, Jo?”

“Selamat karena ibu bakal dapat momongan”

“Oh i..tu iya. terima kasih” Sandra tergagap.

“Wahh wah kang Alfi memang hebat. Bisa punya momongan begitu banyak ” ujar Paijo berkata sendiri. Paijo masih terus bergumam terkagum-kagum sambil melangkah ke luar.

Sandra memandang punggung Paijo tanpa dapat berkata-kata. Anak itu begitu tulus menyatakan kebahagian buatnya.



Siangnya

Ia ingat bukankah tadi siang Paijo berencana menyikat lantai kamar mandi karena kuatir Sandra sampai jatuh terpleset gara-gara lantai yang licin. Aneh! mengapa anak itu begitu lama?. Jangan-jangan dia malah onani di dalam situ. Dasar! pikir Sandra. Timbul keisengannya. Ia ingin mengagetkan Paijo. Perlahan ia mengendap ke dekat kamar mandi. Lamat-lamat telinganya mendengar suara tangisan dari balik pintu kamar mandi. Karena penasaran akan apa yang terjadi di dalam kamar mandi, Sandra mendorong pintu itu.

“Joo apa yang terjadi?.” Tanya Sandra heran melihat Paijo duduk meringkuk sambil sesegukan di lantai kamar mandi. Kepalanya tertunduk masuk di dalam lipatan tangannya yang ditopang kedua lutut. Celananya basah semua. Paijo tak menjawab. Ia terus larut dalam tangisnya. Sandra bingung harus berbuat apa sampai akhirnya ia melihat sebuah hp di pangkuan Paijo.

“Boleh kulihat?” tanyanya. Meski Paijo tak menjawab. Sandra tetap meraih benda itu. Ternyata ada sebuah sms. Dari Surti rupanya.

Tertulis di situ ;

“Kang mas Paijo, sebelumnya Surti minta maaf. Surti hanya mau mengabarkan jika Surti dan kang Ipung sudah menikah pagi tadi. Surti mohon jangan hubungi Surti lagi setelah ini. Terima kasih atas pengorbanan kang mas selama ini. Salam Surti.”

Jelas ini biang keladinya!. Dasar perempuan tak tahu balas budi! umpat Sandra dalam hati. Seharusnya dia tak perlu lagi menghubungi Paijo setelah mencampakannya seperti sampah. Yang jelas kabar itu hanya akan melukai perasaan Paijo saja.

“Joo..sabar ya. Tabahkan hatimu” bujuk Sandra

“Surtiii..huu huuu.” Dengan perasaan pilu Paijo menyebut nama wanita yang ia sayangi itu di sela tangisannya. Sandra sungguh merasa iba. Anak semuda itu tak seharusnya mengalami penderitaan batin begitu bertubi-tubi. Jiwanya masih sangat rapuh dan labil.

“Tak usah engkau tangisi perempuan seperti itu Jo. Dia dan keluarganya hanya memanfaatkan dirimu saja selama ini!”

“Tapi..saya hks cinta sekali sama Surtii, bu.. hks.. hks” jawab Paijo tersengal-sengal karena pernapasannya terbuka dan tertutup sendiri akibat dari reaksi metabolisme dari tangisnya yang berlangsung terlalu lama.

“Tapi dia tak menyintaimu,Jo. Dan yang ada di kandungan Surti bukanlah anakmu. Itu adalah anaknya Ipung”

“Berarti saya.. hks.. sudah tidak punya harapan lagiii. Kalau begitu biar saya mati saja buu! huu huuu”

“Aduhhh Joo! Engkau tidak boleh putus asa seperti itu!.”

Sandra jadi kuatir anak itu akan bertindak nekat karena tak mampu menahan kesedihannya. Tak ada jalan lain buat menghentikan itu pikir Sandra. Ia harus memberitahu Paijo soal kehamilannya.

“Joo, ada sesuatu yang ingin kuberitahukan kepadamu”

“hks hks huuuu…huu” Paijo terus menangis.

“Ketahuilah Jo bahwa janin yang ada dirahimku sebenarnya adalah…. anakmu” lanjut Sandra.

Paijo mengangkat kepalanya.

“A.anak saya? ibu kok ngomong begitu hks…? Kan ibu sendiri yang bilang kalau saya mandul huu huu”

Setelah mengatakan itu Paijo kembali meraung pedih. Ia menjadi semakin sedih dan merasa tak berguna sebab yang ia tahu ia sudah gagal dan janin di rahim Sandra itu adalah buah percintaan antara Sandra dengan Alfi.

“Dengarkan aku dulu, Jo. Aku mengatakan yang sesungguhnya. Memang kamu yang telah membuatku hamil” ujar Sandra sambil meraih wajah anak itu dengan kedua tangannya.

Paijo menghentikan tangisnya sambil menatap Sandra.

“Maafkan aku. Aku-pun baru pagi ini tahu itu dari Lila. Terapi tempo hari ternyata berhasil. Bahkan kamu memberiku bayi kembar “sambung Sandra.

“Kem..baarr? Ibu bukan cuma mau nyenengin saya, kan?” tanya Paijo dengan perasaan bercampur aduk.

“Percayalah. Jo.”

“Tapi bagaimana dengan Surti buu”

“Soal Surti. Kamu harus bisa merelakannya. Mungkin ia memang bukan jodohmu. Suatu saat engkau pasti akan menemukan pengganti Surti. Kamu masih memiliki bik Iyah yang menyayangimu seperti putranya sendiri. Dan kamu masih memiliki ini” ujar Sandra sambil menunjuk ke perutnya.

“Engkau maukan bertemu dengan kedua anakmu kelak?” tanya Sandra.

Paijo mengangguk dengan air matanya masih meleleh di pipi.

“Iya bu saya pingin melihat mereka setelah lahir”

“Nah! kalau begitu kamu harus tetap melanjutkan hidupmu. Bukankah tadinya engkau begitu bersemangat bekerja dan mencari uang buat bu de-mu. Seharusnya engkau bertambah giat setelah tahu engkau bakal menjadi seorang ayah”

“Iya buu. Terima kasih.” jawab Paijo sambil mengusap sisa-sisa air matanya dengan mempergunakan ujung bajunya.

“Sudah tidak sedih lagi kan?”

Ia kembali mengangguk kecil. Sandra tahu tak segampang itu meredakan kesedihan anak ini. Tapi ia sedikit agak lega melihat Paijo mulai tenang. Sepertinya nasehatnya kali ini mengena. Sandra yakin anak itu mau mendengarkan ucapannya.

“Tapi Buu”

“Apa lagi Jo?”

“Jangan bilang ke siapa-siapa”

“Soal apa?”

“Soal siapa sebenarnya ayah kedua anak saya ini. Biarlah kang Alfi dan yang lain tetap mengira ayah bayi di dalam perut ibu adalah kang Alfi. “

“Kenapa kamu mau aku melakukan hal itu Jo?”

“Saya tidak ingin dia jadi sedih seperti yang saya alami sekarang. Lantas akan menjadi masalah baru buat keluarga ibu”

“Tapi ini tak adil buat kamu, Jo”

“Tidak apa-apa bu. Saya rela demi ibu dan kedua anak saya”

“Ohh Jo ..kamu ternyata adalah seorang calon bapak yang baik. Terima kasih karena sudah mau memikirkan aku.” Sandra haru sekaligus iba. Haruskah Paijo menderita lagi setelah apa yang ia alami selama ini. Namun di sisi lain pendapat Paijo barusan benar adanya dan ia sendiri juga tak ingin Alfi kembali ngambek dan menimbulkan konflik baru yang berkepanjangan

“Segera ganti pakaianmu. Nanti engkau keburu masuk angin”.

“Baik bu”

Bersambung . . . .




Cinta sang bidadari buat Alfi - 4

Tuuttt.. tutt… ti…Handphone Sandra berbunyi. Ia melihat avatar Alfi tampil dilayar. Duh! Kangennya ia pada anak itu. Saat ini Alfi pasti sedang asyik bersama Niken. Sandra menduga demikian karena itu sudah menjadi kebiasaan Alfi selama ini. Sebenarnya satu minggu ini adalah jatah Alfi buat Sandra sendiri. Namun karena saat ini ia pergi ke kota G jadi Alfi bebas kemanapun ia ingin pergi.

“Apa kabar kamu hari ini, sayang?” Tanya Sandra mengawali percakapan.

“Baik kak, Kakak sendiri bagaimana?”

“Juga baik sayang. Eng..lagi ngapain kamu Fi?”

“Alfi baru pulang dari sekolah. masih di rumah menunggu kak Nadine pulang kerja”

“Lho tadinya kakak pikir kamu pergi ke rumah kak Niken-mu, Fi”

“Ngga kak,. Alfi pingin dulu ngabisin waktu beberapa minggu ini sama kak Nadine. Lagian Alfi kangen banget sama kak Nadine”

“Kok, tumben?”

Ini aneh? Pikir Sandra. Tak biasanya Alfi mengambil keputusan seperti itu. Ia selalu lebih memilih untuk meniduri Niken bila sudah dihadapkan pilihan antara Niken atau para wanitanya yang lain.

“Iya kak. Soalnya Alfi merasa bersalah sama kak Nadine dan kak Dian. Alfi berlaku tidak adil pada mereka selama ini. Terutama kak Nadine. Sudah banyak pengorbanan yang ia lakukan sejak dia Alfi nodai. Ia harus rela menjadi istri kedua kak Didiet karena hamil oleh Alfi.”

“Aduhh sayangg. Ada apa kamu mendadak berpikiran seperti itu?”

“Setelah peristiwa Paijo dulu Alfi jadi sadar betapa Alfi mencintai kakak. Dan Alfi tak ingin hal serupa terjadi pada kak Nadine dan kak Dian sebab Alfi juga sangat sayang sama mereka.”

“Lho kan si Paijo sudah tak ada lagi jadi kenapa kamu begitu kuatir?”

“Alfi tahu itu. Tapi di hati kecil Alfi tetap merasa jika sesuatu telah terjadi”

“Kakak tak mengerti maksudmu, Fi”

“Alfi takut ada orang lain ….” Ujar Alfi ragu meneruskan kata-katanya

“Kamu mengira kak Nadine-mu telah berselingkuh, Fi?” Tanya Sandra kuatir jika Alfi mengendus perselingkuhan Nadine dan Paijo. Siapa tahu Paijo tanpa sengaja meninggalkan bekas cupangan di tubuh Nadine.

“Alfi tidak menuduh kak. Alfi hanya kuatir saja kok kak. Tetapi seandainya itu memang terjadi, Alfi tak akan menyalahkan kak Nadine karena itu memang kesalahan Alfi sendiri.”

“Syukurlah kalau kamu sadar kalau permasalahan yang timbul akhir-akhir ini akibat perbuatanmu sendiri dan hal itu telah menyusahkan kami semua” Ujar Sandra lega. Setidaknya peristiwa dulu bisa membuat Alfi mengintropeksi dirinya. Meski demikian Sandra beranggapan Alfi tetap tidak perlu tahu mengetahui hubungan Nadine dan Paijo selama di kota G sebab ia masih ragu jika Alfi memang sudah bisa menerima hal itu.

“Iya kak. Karena itu Alfi di menanti mereka sini buat menebus kesalahan Alfi pada mereka berdua”

“Ya sudah. Eh Fii, kamu kangen ngga sama kakak? Kakak pinginn bangett kamu gituinn” rengek Sandra. Mereka memang masih harus menahan diri setidaknya selama satu bulan lagi buat bercinta secara penuh menunggu hingga usia kandungan Sandra benar-benar sudah cukup kuat.

“Alfi juga kangen banget sama kakak. Kasihan kakak. Tapi Alfi juga binggung dan sedih karena ngga bisa nolong kakak.”

“Eh.. KAK!” tiba-tiba Alfi berteriak kegirangan.

“Iya ada apa Fi?’

“Kenapa kita ngga minta sama kak Didiet aja yang ngegituin kakak. punya kak Didiet kan pendek jadi ngga bakalan ngebentur rahim kakak”

“Iya juga sih! Tapi kakak ngga mau!.”

“Lho kenapa kak?”

“Habisnya ngga enak! Enaknya sama titit kamu”

“Paling tidak saat ini kakak ngga terlalu menderita seperti sekarang”

“Pokoknya kakak ngga mau. masalahnya kak Didiet-mu selalu saja ‘dapet’ duluan jadinya sama saja dengan ngga di apa-apain”

“Duh bagaimana ya? Seandainya saja si Paijo ada di sini…” keluh Alfi dalam kebinggungannya.

“Paijoo? Sayangg, Kamu bicara apaaa?!!”

“Iya kak, kalau saja saat ini ada si Paijo. Pasti kesulitan kita bakal teratasi”

“Kenapa kamu bicara seperti itu? Kakak ngga mau lagi berhubungan dengan dia. Kakak kapok! Kakak ngga mau lagi kehilangan kamu.”

“Paling tidak ia bisa memenuhi kebutuhan kakak. Dan aman buat kakak bercinta sama dia karena tititnya ngga bisa membentur rahim kakak Apalagi dia itu punya titit yang enak banget kan kak?..”

“Aaa Alfi! Kamu tega banget ngegoda kakak. Kakak kan jadi tambah basah!”

“Bukannya kamu bilang kamu tidak suka sama paijo. Emang kamu ngga cemburu Fi. Kalau aku di gituin lagi sama Paijo?hi hi”

“Cemburu sih iya. Tapi Alfi ngga kuatir seperti tempo hari sebab Alfi tahu cinta kakak hanya buat Alfi seorang. Yang penting sekarang buat Alfi adalah kebutuhan buat kakak dulu. Alfi rela melakukan apapun demi kakak agar kakak bahagia.”

“Bener nihh kamu ngga cemburu?. Kakak bisa saja mencari seseorang di sini yang mirip Paijo. Engg… terus kakak selingkuh sama orang itu”

“Ngga papa Kak. Alfi rela. Jika perlu Alfi bisa minta sama kak Didiet buat membawa Paijo datang kesitu buat nemani kakak selama di sana..”

“Sudah Ah. Kok ngomongnya ngelantur terus. Entar bener-bener kejadian deh!”

“Lho siapa bilang Alfi sedang bercanda. Alfi serius kok kak”

“Iya iya sudah! Kakak tahu kamu rela dan mau berkorban buat kakak. Tapi saat ini kakak hanya pingin kamu yang menuntaskan hasrat kakak saat kakak pulang”



Sore hari itu

Didiet baru saja menelpon dan mengatakan jika ia bakal pulang kemalaman karena harus meninjau pekerjaannya ke lapangan.

“Kamu makan malam saja dulu Say. tak perlu menungguku” pesannya pada Sandra.

Sandra mengetuk kamar Paijo.

“Joo ayo temani aku makan malam” Ia sengaja mengajak Paijo makan bersamanya karena tak ingin Paijo terus menerus sendirian. Seseorang yang sedang mengalami kesedihan berat semacam itu harus kerap di awasi.

Tak lama kemudian Paijo membuka pintu.

“Saya belum lapar buu. Silakan ibu makan terlebih dahulu. Saya nyusul belakangan saja “

Sandra melihat mata Paijo yang masih bengkak. Ia baru menangis lagi. Ia pasti masih terus memikirkan soal Surti.

“Duhh..Lihat tuh! Ternyata bapakmu habis nangis” Goda Sandra seolah-olah sedang berkata pada perutnya sendiri.

“Saya tidak nangis kok bu” sangkal Paijo sambil menunduk malu.

“Bilang langsung ke mereka kalau bapaknya tidak bakal sedih dan nangis lagi” ujar Sandra menunjuk ke perutnya. Tingkah Sandra itu mau tak mau membuat Paijo tersenyum dan menahan ketawa.

“Ayoo.Joo!”

“B..bapak tidak bakal sedih lagi” ucap Paijo sekenanya.

“Kok ngomongnya dari situ? Dia ngga bisa dengar kalau seperti itu Jo. Sini!”desak Sandra. Paijo mendekatkan kepalanya ke perut Sandra.

“Nakk, bapak tidak bakalan sedih dan nangis lagi” ujar Paijo dengan lebih serius mengulangi ucapannya sambil mengusap-usap perut Sandra.

“Argg Joo. Geli!” pekik Sandra. Entah mengapa mendadak gairahnya mendadak ketika Paijo mengusap perutnya Meski itu hanya sebuah gerakan sederhana dan spontan namun berdampak sangat besar bagi Sandra. Menyambar bagaikan percikan api dari sebuah pematik di tengah galonan bensin.

“Iya buu. Maaf..” ujar Paijo menjauhkan kepalanya. Sandra senang melihat senyum Paijo. Setidaknya ia bisa sedikit meringankan beban anak itu.

Ugh! Tiba-tiba wajah Sandra berubah pucat. Rasa mual itu mulai datang lagi. Kali ini dorongan buat muntah begitu besar. Sandra bergegas menuju ke kamar mandi.

“Hoekss!!” seketika itu juga ia tak mampu menahan dorongan untuk muntah.

“Buu?”

Bersambung . . . .




Cinta sang bidadari buat Alfi - 5

Paijo tidak tinggal diam. Di ambilnya sebotol minyak angin miliknya dan didekatkannya ke hidung Sandra. Namun sepertinya itu saja tak cukup.

“Hoekkkk!!…Hoeeeeekkk!!…” serangan itu kembali. Sebenarnya Paijo sudah cukup berpengalaman dan tahu bagaimana mengatasi situasi seperti ini tatkala mantan istrinya tengah mengalami hal yang sama dulu. Ia ingat ia selalu memberikan pijatan di sekitar pundak Surti. Tetapi ia agak ragu buat menyentuh Sandra. Sehingga ia hanya berdiri saja dengan kebinggungan di situ.

“Hoeeeeeeekk!!….aduuhhh Joo..” rintih si cantik itu. Sudah lebih dua menit metabolisme alami yang amat mengganggu itu tak juga kunjung reda malahan semakin menjadi-jadi. Tak ada yang bisa ia muntahkan lagi namun dorongan itu tak terhentikan. Dan hal itu mulai menyakitkan. Lama-kelamaan wajah Sandra yang putih menjadi semakin pucat. Akhirnya Paijo tak tahan lagi melihat penderitaan wanita yang sedang mengandung anaknya itu.. Dengan tangan gemetar diraihnya pundak Sandra.

“Hhhhh…” Sandra merasakan kenyamanan ketika jemari Paijo menekan syaraf-syaraf pundaknya. Sedikit demi sedikit Sandra kembali bisa bernapas lega. Hampir lima menit Paijo melakukan hal itu. Setelah yakin rasa mual Sandra benar-benar mereda, Paijo membimbingnya kembali ke kamar. Kemudian ia bergegas ke pantry menyeduhkan teh hangat buat Sandra.

“Nah, ibu istirahat saja dulu. Saya mau keluar sebentar” katanya sambil menyerahkan cangkir teh kepada Sandra. Belum sempat Sandra bertanya ia sudah menghilang.

Lima belas menit Sandra duduk sendiri di kamar itu. Sesekali ia menyeruput teh seduhan Paijo bila rasa mual itu kembali muncul. Entah mengapa ia belum ingin kembali ke kamarnya sendiri. Tak lama kemudian Paijo muncul sambil membawa sebuah mangkuk.

“Aww….rujaaak!” pekik Sandra girang. Entah dari mana Paijo memperolehnya di saat seperti ini, namun memang ini yang ia idamkan saat ini. Dengan cepat ia rebut mangkuk tersebut dari tangan Paijo. Pertama sepotong kecil mangga muda langsung dicomotnya. Rasa asam kecut yang melanda lidahnya bercampur sedikit rasa pedas itu dengan cepat memunahkan rasa mualnya. Paijo sendiri jadi ikut-ikut memeramkan mata karena ia tahu rasa buah itu memang sangat asam.

“Kok kurang pedas, Jo?”

“Lho itu tadi sudah di kasih cabe tiga biji kok bu”

“Masih kurang! Tambahin cabenya, Joo”” rengek Sandra.

“Saya tidak mau ibu malah sakit perut.”

“Sedikiiiit saja Joo”

“Tidak boleh!” jawab Paijo dengan tegas. Baru kali ini Sandra merasakan Paijo bersikap seperti itu padanya. Tapi ia justru senang sekali dengan perhatian anak itu padanya. Mereka duduk bersisian di tepi ranjang. Paijo dengan sabarnya menunggui Sandra menyantap rujaknya.

“Joo..” panggil Sandra sambil meletakan mangkuk yang telah kosong di atas meja di samping tempat tidur.

“Ya buu?”

“Terima kasih ya karena sudah mau repot buat aku”

“He he ndak apa apa kok buu..lagian kan ibu hamil gara-gara saya” jawab Paijo tersenyum malu.

“Oya Jo, Aku mau menanyakan sesuatu padamu”

“Tanya soal apa bu?”

“Eng..Sewaktu Surti hamil muda dulu apakah kalian …..melakukannya?”

“Melakukann apaa bu?”

“Uh em tidak jadi Jo. Sudah lupakan saja ” ujar Sandra merasa jengah sendiri.

“M..maksudd ibu n ngentott?” tanya Paijo hati-hati.

“he e ..” jawab Sandra lirih nyaris tak terdengar.

“Kenapa ibu tanyakan itu?”

“Soalnya aku sudahh tiga minggu tidak..” ujar Sandra sambil menggigit bibirnya sendiri. Sejak Paijo menyentuh lembut perutnya juga saat melakukan pemijatan tadi hasratnya semakin tak terkendali.

“I.buu..lagi kepinginn yaa?”

“Tapi a..ku takutt keguguran, Jo”

“Eng..Sebenarnya sewaktu Surti sedang hamil muda dulu kami sering melakukannya ” ujar Paijo mencoba mengingat-ingat kejadian saat dengan Surti dulu.

“Benarkah?”

“Iya. Malahan hampir setiap hari. Mulanya saya yang takut bakal terjadi apa-apa dengan kandungannya tapi karena Surti yang minta jadi saya terpaksa nurutin. Eh bu sebentar lagi pak Didiet kan pulang berarti kan sudah ndak masalahkan?.”

“Dia pasti sudah capek buat itu”

“Kalau begitu saya antar ibu ke bandara sekarang. Saya yakin kita masih dapat tiket buat ibu ke kota S”

“Tidak usah Jo”

“Lho kenapa bu?, saya pikir pak Didiet pasti ngasih izin ke ibu. Mumpung ini masih agak sore”

“Kamu salah mengerti Jo. aku bukannya ingin suamiku atau Alfi yang melakukannya. Aku ingin ..kamu, Jo”

“Sayaa bu?!” Tanya Paijo keget.

Jantungnya berdetak cepat. Seketika itu juga gairahnya meninggi dan celana usangnya menjadi sesak. Ia memang rindu sekali pada wanita cantik ini. Namun ia mendadak teringat perkataan Nadine kepadanya tempo hari. Ia tak ingin melakukan kesalahan lagi. Sandra mengangguk mengiyakan. Wajahnya bersemu dadu karena rasa malu semakin membuat Paijo tak tahan memandangnya.

“Tapii..buu saya sudah janji sama kang Alfi tidak bakal ngeganggu ibu lagi. Kemarinpun saya sudah sekali lagi berbuat salah sewaktu nidurin bu Nadine. Saya takutt salah lagi….” ujar Paijo berusaha bertahan. Ia tak ingin gegabah dan menuruti hawa nafsunya. Dan ia tak yakin akan keinginan Sandra ini. Yang ia tahu Sandra hanya tidur dengannya dulu itu hanya karena ingin hamil.

Apalagi sekarang sudah ada Alfi yang ia akui tak bakal mampu ia tandingi.

“Tidak apa-apa, Joo… Soal Nadine, engkau justru telah menolong dia dan saat ini pun aku tengah mengalami hal yang sama. Apakah engkau tidak kasihan terhadap diriku. Aku tersiksa sekalii akhir-akhir ini… ” pinta Sandra sebelum Paijo sempat menyelesaikan kalimatnya.

“Buuu?” Paijo masih kebinggungan buat memutuskan. Ia sungguh tak tahu di titik mana ia harus bertahan.

“Intimi aku malam inii, ya kang mas?”

Paijo terkejut sekali. Sandra memanggilnya dengan sebutan ‘Kang Mas’?!. Itu adalah panggilan Surti kepadanya selama ini. Sandra tak pernah melakukan ini padanya sebelum-sebelum ini.

“Di.a.jenggg…akuu…akuu ” jawab Paijo.

Sandra tersenyum mendengar Paijo balas memanggilnya dengan sebutan itu. Ia paham apa yang harus ia lakukan dalam situasi seperti ini. Sandra dapat melihat dengan jelas tonjolan besar pada celana Paijo. Ia mendekat ke arah pemuda kampung yang kebinggungan itu. Wajah nan cantik itu maju hingga hanya beberapa inchi dihadapan Paijo.

Sandra memejamkan matanya sementara bibirnya yang merah merekah itu sudah terbuka menunggu kedatangan bibir Paijo. Naluri Paijo akhirnya mengatakan bahwa ini adalah saatnya buat ia bertindak. Meski mulanya agak ragu, Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Sandra.. seraya sedikit memiringkan kepalanya… Dan…

Hal itu terjadi….

Bibir Sandra memagut liar bibir Paijo. Kenyatannya selama tiga minggu tak bersetubuh dan hanya melakukan oral dengan Alfi dan Didiet tidaklah cukup buat meredam gairahnya dan menjadikan dirinya benar-benar haus akan belaian. Yang vaginanya sangat butuhkan adalah kenikmatan langsung dari sebuah alat vital pria. Dan penis Paijo yang sangat beruntung malam ini karena sebentar lagi bakal di lumat habis-habisan dan spermanya bakal di hisap sampai kering buat menuntaskan rasa dahaga vaginanya.

Kali ini ia tak lagi ragu buat melakukan hubungan intim.

Bukankah sebelum ia menyadari tentang kehamilannya itu dari Lila, ia dan Alfi selalu berhubungan intim di minggu-minggu awal kehamilannya dan hal itu tak menyebabkan permasalahan bagi janin pada kandungannya. Apalagi cuma melakukannya dengan Paijo. Ucapan Alfi ada benarnya. Titit Paijo memang tak bakalan bisa membentur rahimnya.

Paijo sendiri seakan masih tak percaya akan keberuntungan yang datang kepadanya saat ini. Ciuman dari Sandra telah menepis segala keragu-raguan hatinya. Ia sadar panggilan sayang yang diucapkan Sandra kepadanya hanyalah sebuah ungkapan rasa suka sesaat yang di dasari oleh nafsu birahi semata bukanlah sebuah rasa suka karena ada perasaan cinta seperti halnya Sandra terhadap Alfi. Sekalipun kini ia diberi hak yang sama dengan Alfi oleh Didiet untuk menikmati kemesraan dengan istrinya itu.

Dan Sandra sendiri saat ini suka rela ia intimi. Ataupun karena dialah yang telah berhasil menanamkan janin di rahim Sandra saat ini bukanlah Alfi. Namun semua itu tak dapat merubah perasaan Sandra. Sebab cinta sang bidadari itu memang hanya buat Alfi seorang. Tetapi Paijo sungguh bangga akan pencapaiannya saat ini. Seandainya saja dulunya ia lebih dahulu bertemu dengan Sandra ketimbang Alfi mungkin saja ceritanya akan menjadi lain. Perlahan Sandra menariknya naik ke atas tempat tidur tanpa melepas ciuman mereka.

Keduanya berdiri di atas lutut mereka. Wanita cantik itu mulai melepas satu persatu kancing kemeja lusuhnya. Setelah itu giliran celana pendeknya tertanggal. Napas Paijo semakin memburu ketika jemari halus Sandra mencengram gemas batang penisnya yang sudah kukuh bagai tonggak.

Bersambung . .  . .




Cinta sang bidadari buat Alfi - 6

“Buka bajuku Kang mas” pinta Sandra tanpa melepas kontol Paijo dari genggamannya sambil sesekali melakukan gerakan kocokan.

Sementara tangan kirinya meraih belakang kepala Paijo dan menarik kepala Paijo buat kembali melakukan ciuman. Bukanlah perkara gampang buat Paijo mempereteli busana tanpa melihat. Di tengah gairah yang membakar hasratnya saat ini jemarinya hanya bisa mengandalkan nalurinya agar pekerjaannya cepat selesai. Alhasil meski agak lama ia berhasil juga menanggalkan semuanya. Yang pertama menjadi sasarannya tentu saja payudara indah Sandra.

“Oughhhhh…”leguh Sandra ketika salah satu putting payudaranya berada dalam kemutan mulut Paijo. Tetapi sedetik kemudian ia langsung menolak kepala Paijo menjauh dari dadanya.

“Jenggg?” Tanya Paijo heran.

“Kangmas aku sudah tidak tahan lagiii…” rengek Sandra. Meski tak biasanya Sandra langsung main tembak seperti ini namun Paijo paham apa yang diinginkan calon ibu dari kedua anaknya itu

Ia mengangguk. Sandra sudah rebah terlentang. Paijo mengatur posisi tubuhnya. Ia masuk di antara ke dua paha montok nan putih istri Didiet itu. Ujung penisnya ia arahkan tepat ke sebuah bukit kecil itu berbentuk bagaikan kue serabi dengan saus lezat meleleh dari bagian tengahnya yang terbelah. Pada detik-detik penyatuan itu pandangannya bertemu dengan Sandra.

“Masukinn sekarangg kanggg mass..Ough!” rintih Sandra semakin tak sabaran sambil berusaha menarik pinggul Paijo ke arahnya.

Akhirnya Paijopun menurunkan pinggulnya. Blessss!!! …

“Arggggg !!!” Sandra dan Paijo terpekik berbarengan saat penyatuan itu berlangsung. Organ intim mereka telah kembali bersatu. Merasakan jutaan sengatan kenikmatan pada kemaluan mereka setelah sekian lama berpisah. Setelah terjadi gejolak hebat dalam rumah tangga Sandra hal itu yang nyaris tak mungkin lagi terjadi.

“Ougghhhhh kangg masssss.!!” Sandra terpekik dilanda orgasmenya yang pertama.

Anak ini telah menuntaskan hasrat dan gairahnya yang telah terkukung selama beberapa minggu ini hanya dalam waktu kurang dari satu menit setelah penetrasi dan ia belum lagi menggerakan pinggungnya. Paijo memang memiliki sebuah kelebihan buat menaklukan banyak wanita di atas ranjang termasuk dirinya. Bahkan Nadine yang kekeuh saja akhirnyapun menggelepar takluk di dalam dekapannya. Hanya saja nasibnya tak seberuntung Alfi. Cuma satu kekurangan Paijo. Penisnya memang tak sepanjang milik Alfi sehingga tak mampu menyentuh dasar vagina Sandra dan Nadine. Namun itu sudah cukup untuk membuat para wanita itu mendapatkan kenikmatan yang begitu tinggi.

“Kang mas kocokin tititnyaa” rengek Sandra setelah orgasme pembukanya tadi mereda. Ia sungguh ketagihan merasakan benda bertintik itu menggelitik seluruh cerukan yang ada di dalam liang intimnya.

Paijo mulai mengocok. Ia lakukan itu dengan begitu lembut kerena ia ingat ada anaknya diperut dalam perut Sandra. Benda hitam legam itu bergerak keluar sedikit namun masuk kembali secara maksimal hingga pubik bertemu pubik. Setiap gerakannya membuat cairan kenikmatan Sandra membanjir. Begitu banyaknya hingga tertumpah-tumpah di seprey. Paijo tak juga menaikan tempo kocokannya. Ia tetap konsisten dalam gerakan lambat nan syahdu. Sementara Sandra semakin menggelepar di bawah tindihannya..

“Argggg kangg masssss.!!”pekik kenikmatan Sandra kembali terdengar. Paijo kembali menekan penisnya dalam-dalam dan menahan gerakannya. Penisnya yang berdenyut-denyut kuat semakin menambah rasa nikmat bagi Sandra saat itu.

“Uhhh…diajeng dapett lagii?”

“Iyaaa kangg masss…. Titit kang mass enak sekaliiii!!.”

Setidaknya persetubuhan itu sudah berjalan lima belas menit ketika Sandra kembali memperoleh orgasmenya yang ke tiga..

“Dicabut sekarang, jeng?” tanya Paijo sepertinya ragu buat meneruskan persetubuhan itu. Ia ingin mengakhirinya karena kuatir akan keselamatan janin di dalam kandungan

Sandra meski ia sendiri belum memperoleh orgasme. Ia sengaja mati-matian bertahan dan mengkesampingkan kepuasan dirinya karena ia ingin wanita yang mengandung anaknya itu terpuaskan dulu.

“Jangan dulu kang mas! Aku masih mau lagi. Lagian Kang mas kan juga belum dapet?” ujar Sandra sambil mengusap dada pemuda perkasa itu dengan jemarinya yang lembut.

“Tapii jeng…”

“Tidak apa-apa kang mas. Kita terus lakukan secara perlahan saja. Aku ingin sekali merasakan denyutan titit kang mas di dalam tubuhku sewaktu kang mas dapet” ujar Sandra. Ia dapat melihat wajah Paijo yang begitu pucat karena menahan ejakulasinya. Ia jadi heran bercampur kagum pada anak ini. Paijo tampak begitu berbeda dengan sosok yang pernah menggaulinya beberapa bulan yang lalu. Paijo yang ini begitu santun bahkan mampu bersikap bagai seorang gentleman.

“Baiklah jeng”

Mereka kembali bergumul. Sandra mulai bisa mengendalikan situasi setelah memperoleh tiga kali orgasme. Ia mulai mempergunakan kekuatan otot-otot panggulnya hingga kewanitaannya. Vaginanya menghisap dasyat penis hitam Paijo.

“Uhhhh! Jengg..enakkk..ekkkk..”rintih Paijo.

“Enakk sayanggg?” tanya Sandra bergairah.

Entah mengapa ia-pun menjadi sangat suka pada rintihan kenikmatan katrok ala Paijo pada saat mereka bersetubuh. Hal itu memancing gairahnya semakin tinggi dalam percintaan ini.

“Iyaaa jeeng enak sekaliii “

“Kalauu beginii sayangg?” goda Sandra sambil melakukan kocokan balasan yang lembut dari arah bawah.

“Arggg jeeng…enakkk!” Paijo semakin terpekik.

Yang dilakukan Sandra barusan bukanlah kocokan yang sederhana. kontolnya mendapatkan tekanan yang besar di dalam situ. Tubuh sintal Sandra dengan tinggi 174 sentimeter membelit tubuh kerempeng Paijo yang hanya 153 sentimeter itu. Menguasai dan mendominasi hampir seluruh bagian tubuh Paijo dan hanya menyisakan bagian lutut hingga ke telapak kaki yang terbebas. Tubuh Paijo bagaikan seekor anak kambing yang tak berdaya di dalam belitan seekor pyton besar. Sandra membelit tubuhnya dan sekaligus menelan bulat-bulat organ vital bocah itu.

Akhirnya anak itu mendekap pinggang Sandra. Sandra mengenali gejala itu. Anak itu sudah akan orgasme. Ia segera melumat bibir Paijo sambil balik mendekapnya. Lalu mengayunkan pinggulnya ke atas dan ke bawah secara kuat. sementara itu bagian kewanitaannya bekerja mencekik dan mengunci erat titit pemuda itu. Paijo terpekik namun suaranya teredam oleh bekapan bibir Sandra. Saat itu ia menerima dua kenikmatan sekaligus dari bagian atas dan…bawah! Penisnya berdenyut keras. Lalu memuntahkan lahar panas dari ujung kepundan lubang pipisnya. croottt!…crottt…crottt!! Mata pemuda itu sempat terbelalak sekejap lalu mendelik selanjutnya terpejam erat. Begitu dasyat orgasme yang melanda Paijo. Tubuhnya ikut terhentak-hentak setiap kali kontolnya memancutkan spermanya.

“Semprotinn..kangmass sayangg…habiskann semua..benih kangmas buatkuu..” desah Sandra sambil menikmati proses orgasme yang di alami Paijo kali ini.

Liang senggamanya begitu penuh oleh titit dan jutaan benih subur Paijo. Gumpalan cairan yang sama dengan cairan yang pernah membuahi rahimnya. Sandra menganggap Paijo memang pantas mendapatkan itu. Ia seakan ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dua janin yang berhasil anak itu tanamkan ke dalam rahimnya saat ini. Tubuh mereka terus saling melekat satu sama lain dalam posisi missionary sambil berciuman ketat. Jika dulu Sandra selalu meminta Paijo menjauh agar ia bisa melakukan proses pembuahan namun kini hal itu tak perlu lagi. Sandra membiarkan Paijo meresapi sisa-sisa kenikmatan itu hingga tuntas di dalam dekapan tubuh cantiknya.

“Pejuh kang mas banyak sekalii”ujar Sandra ketika ciuman mereka terlepas.

“Habis tempik diajeng enak sekali “puji Paijo

“Benarkah? Kang mas suka tempikku? masih peret ya?”

“Iya jeng. Peret sekali. Bahkan lebih peret dari punya Surti”

Wow! Lebih peret dari gadis seusia Surti? Sandra jadi melambung mendengar itu. Ia yakin sekali Paijo berkata apa adanya.

“Bagaimana Dian dan Nadine?” Ini kesempatan bagi Sandra untuk mencari tahu mengenai hal itu. Soalnya selama ini Alfi tak pernah mau mengatakannya.

“Bu Dian itu asyik tapi ‘ngisep’-nya ndak sekuat diajeng apalagi kalau dia sudah ‘dapet’. Kalau bu Nadine hampir sama seperti diajeng, tempiknya masih peret sekali meski sudah pernah melahirkan, tapi saya ndak begitu suka sebab dia mintanya selalu yang aneh-aneh. Buat saya tetap punya diajeng yang paling enak”

“Hi hi hi terima kasih kang mas sudah memilih aku” Sandra tersenyum geli.

Ia paham apa maksud Paijo. Nadine memang menginginkan begitu banyak variasi pada saat berhubungan intim. Padahal baik Paijo maupun Alfi lebih suka melakukannya dalam posisi missionari karena posisi ini sederhana, tidak harus retok namun full body contact. Sedangkan Sandra sendiri memang lebih suka posisi itu karena secara psikologis ia merasa di dominasi dan dikuasai oleh pasangannya pada saat persetubuhan berlangsung dan itu memberikannya rasa nikmat yang sangat kuat. Sedangkan Dian kemungkinan saat itu ia memang tak terlalu antusias bercinta dengan Paijo.

“Tapi bu Dian itu manis sekali orangnya” sambung Paijo seakan ia ingin menegaskan bahwa keintiman bukanlah segala-galanya baginya. Ada hal-hal lain yang membuatnya suka akan seseorang.

“Hi hi ketahuan sekarang. Kang mas punya perasaan sama dia kan?”

Paijo tersipu-sipu malu. Memang keisengan Dian tempo hari telah meninggalkan kesan yang mendalam baginya.

“Kang mas pasti kangen sama dia kan?”

“Iya jeng saya kangen sekali sama bu Dian”

“Bagaimana kalau kuminta ia datang kemari menemui kang mas sebelum keberangkatan kang mas ke pulau K?”

“B.benarkah jeng?… tapi… apakah bu Dian mau datang buat saya?”

“Kang mas tenang saja serakan semuanya padaku”

“Baiklah jeng”

Mereka masih terus berdekapan dengan kemaluan Paijo masih menancap ketat di dalam vagina lembut Sandra.

“Kang maasss..”

“Ya jeng?”

“Punya kang mas masih tegang dan berdenyut-denyut di dalam punyaku. Kang mas masih mau ngegituin aku lagi kan?”

“Iya jeng. Aku masih pingin terus ngentot sama diajeng”

“Kalau begitu kita terusin lagi ya kang mas? Berikan rahimku beberapa kali lagi semprotan cinta kangmas”

Bersambung . .  . .